Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bahlil Bongkar Cara Pemerintah Cari Rp 250 Triliun Agar Pertalite Tak Naik, Harga Minyak Dunia Justru Jadi Peluang

        Bahlil Bongkar Cara Pemerintah Cari Rp 250 Triliun Agar Pertalite Tak Naik, Harga Minyak Dunia Justru Jadi Peluang Kredit Foto: My Pertamina
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah memilih mempertahankan harga BBM subsidi di tengah gejolak harga minyak dunia dengan menyiapkan berbagai sumber pendapatan tambahan untuk menutup kebutuhan subsidi energi.

        Langkah tersebut diambil agar masyarakat pengguna Pertalite dan Solar tidak terkena dampak langsung dari kenaikan harga minyak mentah global yang sempat melonjak dalam beberapa waktu terakhir.

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah telah menghitung berbagai skenario agar kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi tidak membebani keuangan negara.

        Menurut Bahlil, salah satu sumber pendanaan berasal dari kenaikan pendapatan negara ketika harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) bergerak naik.

        Ia menjelaskan bahwa ketika ICP berada di level US$70 per barel, penerimaan negara diperkirakan mencapai sekitar US$10,8 miliar, sedangkan jika naik menjadi US$100 per barel maka pendapatan negara berpotensi meningkat hingga US$17,6 miliar.

        "Nah, pertanyaan berikut adalah, kenapa kita tidak menaikkan BBM subsidi? Dari mana uangnya? Bapak-Ibu semua, negara telah memutuskan atas saran Bapak Presiden, ICP-nya sampai dengan US$ 100 dolar, itu berarti kita menambah subsidi kurang lebih sekitar Rp 230 sampai 250 triliun. Dari mana uangnya?" kata Bahlil.

        Bahlil menjelaskan tambahan pendapatan negara dari sektor migas dapat mencapai sekitar US$7 miliar atau setara Rp120 triliun hingga Rp125 triliun apabila harga minyak bertahan di level tinggi.

        "Kalau US$ 7 miliar dolar kali Rp 17.500, itu berarti sekitar Rp 120 triliun sampai Rp 125 triliun. Nah, itu artinya apa? Dari 250 triliun, kita sudah dapat 50% dari peningkatan pendapatan lifting," ujarnya.

        Selain mengandalkan sektor minyak dan gas, pemerintah juga mengoptimalkan penerimaan dari sektor mineral dan batu bara melalui penyesuaian tarif royalti sejumlah komoditas strategis.

        Kebijakan tersebut mencakup kenaikan royalti pada sektor nikel, batu bara, dan beberapa komoditas lainnya yang dinilai mampu memberikan tambahan pemasukan negara puluhan triliun rupiah.

        "Kemudian saya putar otak lagi, bagaimana cara mendapatkan pendapatan tambahan? Kita naikkan beberapa royalti daripada tambang. Kita naikkan royalti nikel, kita naikkan royalti batubara dengan beberapa sektor lain, itu kita bisa dapat uang sekitar 30 sampai 35 triliun," ujar Bahlil.

        Baca Juga: Bahlil Bongkar Alasan LPG 3 Kg Tak Bisa Terus Diandalkan, CNG Disiapkan

        Dengan tambahan penerimaan dari sektor migas dan pertambangan, pemerintah mengklaim sudah memperoleh sekitar Rp160 triliun untuk membantu menutup kebutuhan subsidi yang diperkirakan mencapai Rp230 triliun hingga Rp250 triliun.

        Sisa kebutuhan anggaran akan ditutup melalui langkah efisiensi yang dilakukan pemerintah sehingga harga BBM subsidi tetap bisa dipertahankan tanpa harus menaikkan beban masyarakat.

        "Jadi saya nggak setuju kalau dikatakan bahwa kenaikan menahan harga subsidi BBM itu adalah membebani uang negara," tegas Bahlil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: