Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran-Amerika Kembali Panas: Trump Cuma Bisa Ekspor Omon-omon dan Janji Palsu

        Iran-Amerika Kembali Panas: Trump Cuma Bisa Ekspor Omon-omon dan Janji Palsu Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali mencuat di tengah proses implementasi kesepakatan damai kedua negara. Teheran kali ini melontarkan sindiran tajam menyusul adanya klaim bahwa dana beku negaranya. akan digunakan untuk membeli produk pangan dan obat-obatan dari Amerika.

        Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf secara terbuka membantah klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa keputusan penggunaan aset negaranya, yang dibuka kembali sepenuhnya, merupakan hak pemerintah dari Iran.

        Baca Juga: Israel Siap Menentang Amerika, Tegaskan Ogah Mundur dari Lebanon: 200.000 Warga Tidak Akan Kembali

        Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, ia bahkan balik menyindir Amerika Serikat. Menurutnya, kualitas ekspor negara tersebut tidaklah mumpuni, dan oleh karenanya ia tidak memiliki hak menentukan arah penggunaan dana milik Iran.

        "Amerika Serikat hanya mengekspor kedelai hasil modifikasi, janji-janji palsu dan omong kosong," tulis Qalibaf di X, dikutip Jumat (26/6).

        Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent kembali mengulang klaim terkait sebagian besar dana beku milik Iran. Dana yang dibebaskan menurutnya akan digunakan untuk membeli makanan dan obat-obatan dari Amerika.

        Menurut Bessent, skema tersebut menjadi bagian dari hasil awal kesepakatan yang dicapai kedua negara setelah serangkaian perundingan tingkat tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

        Namun Teheran memiliki pandangan berbeda. Pemerintah Iran menegaskan tidak pernah menyerahkan kewenangan pengelolaan aset negaranya kepada pihak mana pun. Dana yang dicairkan menurut mereka akan digunakan sesuai kebutuhan nasional dan keputusan pemerintah setempat.

        Perbedaan pernyataan ini menjadi sinyal bahwa meskipun negosiasi damai menunjukkan kemajuan, sejumlah persoalan mendasar masih berpotensi memicu gesekan baru antara Washington dan Teheran.

        Sebelumnya, kedua negara memang berhasil mencapai kesepakatan awal yang mencakup pembukaan kembali jalur perdagangan, pembahasan inspeksi fasilitas nuklir serta kerangka negosiasi lanjutan untuk perjanjian permanen.

        Namun sengketa mengenai penggunaan dana yang dibekukan menunjukkan bahwa kepercayaan antara kedua pihak belum sepenuhnya pulih. Teheran tampaknya tidak ingin memberikan kesan bahwa kebijakan ekonominya berada di bawah pengaruh Washington. Sementara Amerika berupaya menunjukkan manfaat konkret dari kesepakatan yang telah dicapai.

        Baca Juga: Diam-diam Roy Suryo Bermanuver untuk Balik Melawan Polisi di Kasus Ijazah Jokowi

        Situasi ini membuat proses negosiasi tahap berikutnya diperkirakan masih akan berlangsung alot, terutama menyangkut isu ekonomi dan kedaulatan pengambilan keputusan di dalam negeri Iran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: