Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Prabowo Ingin Rangkul PDIP, Megawati Tersandung Nama Gibran

        Prabowo Ingin Rangkul PDIP, Megawati Tersandung Nama Gibran Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pegiat media sosial Eko Kuntadhi menilai Presiden Prabowo Subianto kini menganggap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai beban politik.

        Menurut Eko, Prabowo sangat ingin menarik PDIP ke dalam pemerintahan. Namun, partai banteng yang dipimpin Megawati Soekarnoputri disebut tidak mungkin mau bergabung selama Gibran masih berada di lingkar kekuasaan.

        "Barangkali pandangannya Gibran enggak lagi sebagai aset tetapi sebagai beban politik. Kenapa sebagai beban politik? Ketika misalnya Pak Prabowo ingin banget memasukkan PDI dalam gerbong koalisinya, kan Gibran dianggap sebagai hambatan," ungkap Eko dalam kanal YouTube 2045 TV, dikutip Minggu (28/6).

        "Enggak mungkin partai yang dipimpin oleh Bu Mega ini masuk ke gerbong ketika Gibran masih di situ. Jadi pada saat ini ada pikiran bahwa Gibran sebagai beban untuk politik Prabowo ke depan, beban untuk konsolidasi kekuasaan yang maksimal," imbuhnya.

        Baca Juga: Pertarungan Prabowo vs Gibran, 'Semua Bisa Dikorbankan Demi 2029'

        Seperti diketahui, hubungan antara Megawati dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) mengalami keretakan mendalam sejak Pilpres 2024. Akar konflik dipicu oleh keputusan politik keluarga Jokowi menjelang pemilu lalu.

        PDIP secara resmi mengusung Ganjar Pranowo, namun Jokowi justru mengalihkan dukungan penuh kepada Prabowo. Situasi memuncak ketika putra sulung Jokowi, Gibran, maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo. Langkah itu dinilai internal PDIP sebagai bentuk “pembangkangan” dan pelanggaran garis instruksi partai.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: