Kredit Foto: Instagram/Sammy Notaslimboy
Komedian Sam Darma Putra Ginting alias Sammy Notaslimboy melontarkan sindiran tajam kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, meski Prabowo sering menyinggung soal kebocoran uang negara dalam berbagai pidato, justru kebijakan yang diambilnya dinilai berkontribusi pada kebocoran itu sendiri.
Sammy menyoroti penunjukan komisaris BUMN yang dianggap tidak berbasis kompetensi.
"Kalau itu perusahaan bapakmu, tentu publik nggak akan ribut soal cara kau milih komisaris. Prabowo ini sok tegas doang dalam pidato-pidatonya. Bicara soal kebocoran dana segala, dia sendiri yang bikin bocor. Lawan!," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Minggu (28/6).
Publik tengah ramai membahas pengangkatan Ginka Febriyanti Ginting (28 tahun) sebagai Komisaris PT Pertamina Retail. Kritik muncul karena usianya yang masih muda dan minim pengalaman di sektor energi. Meski berpendidikan S1 Akuntansi dan S2 Manajemen, rekam jejak Ginka lebih dikenal sebagai Koordinator Nasional BISON, organisasi relawan inti pemenangan Prabowo–Gibran.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk bagi-bagi jabatan politik (political patronage), bukan rekrutmen berbasis keahlian korporasi.
Sebelumnya, dalam acara penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026), Presiden Prabowo menjelaskan bahwa kebocoran kekayaan negara membuat anggaran tidak cukup untuk memperbaiki gaji guru maupun PNS.
"Saya ingin sampaikan dalam forum ini karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat, harus mengerti kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang, iya kan, karena uangnya nggak ada, diambil terus, saudara-saudara," kata Prabowo.
Baca Juga: Prabowo Ingin Rangkul PDIP, Megawati Tersandung Nama Gibran
Menurut perhitungan para ahli, kebocoran negara mencapai sekitar Rp2.500 triliun per tahun. Prabowo menegaskan pemerintah sedang berupaya memperbaiki masalah tersebut.
"Kebocoran kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih 150 miliar (USD) tiap tahun, Rp 2.500 triliun tiap tahun, saudara-saudara sekalian. Dan ini sedang saya perbaiki semua," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya