Kredit Foto: Istimewa
Kunjungan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Lampung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menuai sorotan. Antusiasme warga yang hadir disebut tidak sebesar ekspektasi, bahkan sempat diwarnai aksi penolakan.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai respons masyarakat menjadi sinyal melemahnya daya tarik politik Jokowi.
"Safari politik Jokowi ke Provinsi Lampung tampaknya jauh dari harapan PSI. PSI berharap kehadiran Jokowi akan mendapat sambutan meriah dari warga Lampung. Nyatanya, dilihat dari warga yang hadir, jumlahnya terbilang terbatas," ucapnya, dikutip Senin (29/6).
Ia membandingkan kondisi itu dengan Pilpres 2019, ketika Jokowi meraih dukungan 59,3 persen suara di Lampung. Menurutnya, sambutan dingin kali ini menunjukkan Jokowi tak lagi memiliki magnet politik yang mampu menghipnotis publik.
"Jokowi bagi warga Lampung bukan lagi sosok yang punya magnet politik, apalagi untuk menghipnotis warga Lampung agar berduyun-duyun menyaksikan kehadirannya," katanya.
Jamiluddin juga menyoroti demonstrasi penolakan yang dilakukan sekelompok warga, termasuk aksi emak-emak. Hal tersebut dianggap sebagai tanda perubahan persepsi masyarakat terhadap Jokowi, yang kini dipandang sebagai sosok bermasalah.
"Jokowi malah dianggap sosok bermasalah. Hal itu terlihat dari demo emak-emak yang menolak kehadiran Jokowi di Lampung," ujarnya.
Baca Juga: Ambisi Jokowi Bukan Cuma Bawa PSI ke Senayan, Ada Misi Lebih Besar
Lebih lanjut, ia menilai kehadiran Jokowi tidak memberi dampak signifikan terhadap elektabilitas PSI.
"Jokowi bukan lagi dianggap solusi, apalagi untuk mengalihkan warga beralih ke PSI. Hal ini tentu mengindikasikan pula kehadiran Jokowi di Lampung tampaknya sulit mendongkrak elektoral PSI," ucapnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: