Usaha Amerika Sia-sia, Putin Bulatkan Tekad Rebut Seluruh Wilayah Ukraina yang Diklaim Rusia
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan negaranya tidak akan mengendurkan operasi militer di Ukraina. Ia memastikan pihaknya tetap bertekad merebut sepenuhnya empat wilayah yang telah diklaim sebagai bagian dari negaranya, meski ada upaya diplomasi dari Amerika Serikat (AS).
Putin secara terbuka menolak usulan terbaru dari Ukraina. Kiev diketahui menginginkan penghentian serangan jarak jauh sebagai langkah awal menuju perdamaian. Menurut Putin, proposal tersebut hanya bertujuan mengurangi tekanan terhadap pasukan musuh yang saat ini bertahan di sepanjang garis depan sepanjang sekitar 1.250 kilometer.
Baca Juga: Amerika Klaim Iran Tak Punya Sekutu Lagi di Timur Tengah, Oman dan China Sudah Kesal
"Jelas mengapa usulan itu diajukan, karena serangan balasan kami jauh ke wilayah Ukraina lebih kuat, lebih berdampak dan terus terang jauh lebih menghancurkan," kata Putin, dikutip Senin (29/6).
Ia menilai Ukraina sedang menghadapi krisis kekurangan personel militer sehingga membutuhkan jeda pertempuran.
"Dengan kekurangan personel yang sangat parah, angkatan bersenjata Ukraina tampaknya menganggap langkah itu sebagai penyelamat mereka. Namun menyelamatkan rezim Kyiv bukan bagian dari rencana kami," tegasnya.
Putin kembali menegaskan sasaran utama operasi militer Rusia adalah menguasai sepenuhnya wilayah Donbas serta Novorossiya, yang mencakup Donetsk, Luhansk, Kherson dan Zaporizhzhia.
Empat wilayah tersebut dianeksasi Rusia pada 2022, meskipun hingga kini sebagian di antaranya masih berada di bawah kendali Ukraina.
Putin juga memastikan Rusia akan meningkatkan produksi sistem pertahanan udara untuk menghadapi gelombang serangan pesawat nirawak Ukraina yang belakangan banyak menyasar fasilitas energi dan industri minyak Rusia. Menurutnya, serangan drone Ukraina tidak akan mengubah situasi di medan tempur.
"Semua serangan terhadap infrastruktur kami sama sekali tidak memengaruhi situasi di garis depan maupun jalannya operasi militer," ujarnya.
Putin juga mengakui serangan tersebut sempat menyebabkan gangguan pasokan bahan bakar di sejumlah wilayah Rusia. Namun, ia memastikan pemerintah telah mengambil langkah untuk mengatasinya.
Di sisi diplomatik, Putin mengungkapkan Rusia masih membuka peluang melanjutkan pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat. Ia mengatakan Moskow menunggu kedatangan kembali utusan khusus Washington, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Putin juga mengonfirmasi bahwa dalam pembicaraannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Alaska tahun lalu memang tidak ada kesepakatan resmi yang ditandatangani.
"Memang tidak ada yang menandatangani apa pun, tetapi kami membahas sejumlah kemungkinan untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Pihak Amerika juga mengajukan sejumlah kompromi dalam proposal mereka," kata Putin.
Baca Juga: Diprediksi Jauh Hari, Manuver Politik Jokowi Akhirnya Malah Buktikan Hasil Penelitian Hasto PDIP
Di akhir pernyataannya, Putin menyebut Presiden Belarus Alexander Lukashenko berpotensi membantu proses perundingan damai di masa mendatang. Namun, ia tidak menanggapi tuduhan Ukraina yang menyebut Rusia berupaya menyeret Belarus lebih jauh ke dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: