Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Fitch Keluarkan Warning ke Indonesia, Rupiah hingga Suku Bunga Tinggi Ancam Korporasi

        Fitch Keluarkan Warning ke Indonesia, Rupiah hingga Suku Bunga Tinggi Ancam Korporasi Kredit Foto: Setkab
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings memperingatkan meningkatnya risiko yang dihadapi perusahaan-perusahaan di Indonesia akibat tekanan makroekonomi dan ketidakpastian regulasi. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga, serta meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat, meningkatkan biaya pendanaan, hingga memperlambat kinerja sejumlah sektor usaha.

        Dalam laporan Indonesia Credit Trends: June 2026 yang dirilis Selasa (30/6/2026), Fitch menyebut sektor yang paling rentan adalah industri yang bergantung pada belanja masyarakat dan pembiayaan kredit, seperti otomotif dan properti.

        “Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, meningkatnya suku bunga, serta pelemahan nilai tukar rupiah akan menambah tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi menggerus daya beli rumah tangga dan menekan belanja konsumen, terutama untuk pengeluaran yang bersifat diskresioner atau bukan kebutuhan utama,” tulis Fitch.

        Menurut Fitch, kombinasi tekanan tersebut akan meningkatkan risiko permintaan terhadap produk-produk non-esensial karena masyarakat cenderung menahan konsumsi ketika inflasi meningkat dan biaya pinjaman semakin mahal.

        “Kami memperkirakan sektor-sektor yang permintaannya bersifat diskresioner dan sangat bergantung pada pembiayaan melalui kredit, seperti otomotif dan properti, akan menjadi sektor yang paling terdampak oleh risiko tersebut,” lanjut Fitch.

        Selain menekan permintaan, pelemahan rupiah yang berlangsung dalam waktu lama juga dinilai berpotensi menggerus profitabilitas perusahaan, terutama emiten yang masih bergantung pada bahan baku impor dan memiliki kemampuan terbatas untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.

        “Pelemahan nilai tukar yang berkepanjangan dapat menekan margin emiten yang bergantung pada impor dengan kemampuan terbatas untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen,” tulis Fitch.

        Fitch juga menyoroti dampak kebijakan moneter yang lebih ketat. Kenaikan suku bunga acuan diperkirakan akan meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mempersempit ruang ekspansi perusahaan yang mengandalkan pembiayaan utang.

        “Suku bunga kebijakan yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan biaya pembiayaan dan membatasi fleksibilitas bagi emiten yang ingin berutang,” ujar Fitch.

        Di luar faktor makroekonomi, lembaga pemeringkat tersebut juga menilai ketidakpastian regulasi masih menjadi tantangan bagi perusahaan di sektor strategis, terutama sektor sumber daya alam.

        “Kami memperkirakan bahwa regulasi yang terus berkembang akan tetap menjadi risiko bagi perusahaan di sektor-sektor strategis, seperti sumber daya alam,” jelas Fitch.

        Baca Juga: MSCI Tentukan Nasib Pasar Indonesia Lewat Masa Probasi hingga November 2026

        Baca Juga: Ingat! Status Emerging Market Indonesia di MSCI Berlaku Hingga November 2026

        Meski demikian, Fitch menilai mayoritas perusahaan Indonesia yang diperingkat masih memiliki profil kredit yang memadai untuk menghadapi tekanan tersebut. Perusahaan dengan daya tawar harga (pricing power) yang kuat, permintaan yang defensif, diversifikasi pendapatan maupun geografis, serta struktur permodalan yang konservatif dinilai berada pada posisi yang lebih baik dalam menghadapi perlambatan ekonomi dan volatilitas pasar.

        Di sisi lain, Fitch memperkirakan sektor kebutuhan pokok akan lebih tahan terhadap pelemahan daya beli dibandingkan sektor konsumsi diskresioner. Permintaan terhadap produk seperti pangan dengan harga terjangkau dan sumber protein diperkirakan tetap stabil meski kondisi ekonomi melemah.

        “Sebaliknya, permintaan terhadap kebutuhan pokok, seperti bahan pangan dengan harga terjangkau maupun sumber protein, diperkirakan akan tetap lebih tangguh di tengah tekanan ekonomi,” tulis Fitch.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: