Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonom Senior: 'Kita Sekarang Kalah dengan Vietnam yang Pada 70-an Rakyatnya Masih Mengungsi'

        Ekonom Senior: 'Kita Sekarang Kalah dengan Vietnam yang Pada 70-an Rakyatnya Masih Mengungsi' Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 berdasarkan data S&P Global. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase kontraksi.

        Di tengah pelemahan sektor manufaktur Indonesia, Bank Dunia pada Juli 2026 menetapkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income country) setelah mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen.

        Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai penurunan PMI mencerminkan lemahnya kondisi sektor industri nasional.

        Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal sebelumnya belum ditopang oleh pemulihan sektor manufaktur secara menyeluruh.

        "Angka PMI ini merupakan indikasi sektor industri kita sakit lama dan sekarang masuk zona bahaya merah. Data PMI yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi," kata Didik dalam keterangan tertulis.

        Didik menyebut dunia usaha saat ini menghadapi tekanan dari faktor global maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik dinilai meningkatkan biaya produksi.

        Sementara di dalam negeri, pelaku industri masih menghadapi hambatan birokrasi, keterbatasan insentif investasi, serta melemahnya daya beli masyarakat akibat berkurangnya lapangan kerja produktif.

        "Ini seperti lingkaran setan. Upaya memutusnya tidak lain adalah lewat transformasi struktur industri, deregulasi, dan debirokratisasi," ujarnya.

        Didik menilai capaian Vietnam menjadi negara berpendapatan menengah atas tidak terlepas dari konsistensi pemerintah negara tersebut dalam menarik investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang berorientasi ekspor, sekaligus mendorong transfer teknologi dan penguatan inovasi industri.

        Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia per Juli 2026, pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Vietnam telah mencapai sekitar US$4.970, melampaui ambang batas kategori negara berpendapatan menengah atas.

        Menurut Didik, strategi pembangunan industri yang konsisten membuat Vietnam mampu meningkatkan daya saing sektor manufakturnya dalam beberapa dekade terakhir.

        Didik mengingatkan Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi 7–8 persen pada era 1980-an hingga 1990-an, didukung pertumbuhan sektor industri yang mencapai dua digit. Namun, momentum tersebut dinilai tidak berlanjut sehingga pertumbuhan ekonomi kini bertahan di kisaran 5 persen.

        Ia menilai reformasi iklim investasi, deregulasi, dan penguatan sektor manufaktur perlu dilakukan agar daya saing industri nasional kembali meningkat dan mampu bersaing dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN.

        "Kita sekarang kalah dengan Vietnam yang pada tahun 1970-an rakyatnya masih mengungsi di Pulau Galang dan Rempang. Jika tidak ada kebijakan untuk membangkitkan industri secara masif, Indonesia bisa menjadi negara sakit di ASEAN," kata Didik.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: