Iran Tak Akan Lupa, Kutukan untuk Amerika Menggema di Pemakaman Ali Khamenei
Kredit Foto: Istimewa
Seruan balas dendam menggema dalam suasana berkabung atas wafatnya sosok dari Mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Pemakamannya berubah menjadi panggung perlawanan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dikutip dari Fox News, ribuan pelayat yang memadati Grand Mosalla, Teheran. Mereka berulang kali meneriakkan kutukan hingga seruan balas dendam terhadap Amerika. Hal itu menggema sepanjang prosesi pemakaman dari Ali Khamenei.
Baca Juga: Dokter Tifa Ogah Berdamai dengan Jokowi di Kasus Ijazah: Saya Tak Akan Menerima Pengakuan Bersalah
Teriakan "Mati untuk Amerika" dan "balas dendam, balas dendam" terdengar bergema di kompleks masjid terbesar di ibu kota negara tersebut, saat mereka memulai rangkaian upacara pemakaman yang akan berlangsung selama beberapa hari.
Media Iran menayangkan ribuan warga yang mengenakan pakaian hitam memenuhi area dari Grand Mosalla. Banyak di antara mereka terlihat menangis, memukul dada sebagai tradisi berkabung dalam Islam Syiah. Mereka juga turut mengibarkan bendera merah yang melambangkan tuntutan keadilan dan pembalasan atas kematian dari Ali Khamenei.
Pemakaman tersebut digelar beberapa bulan setelah sosok ternama itu tewas dalam serangan gabungan dari Amerika Serikat dan Israel, 28 Februari 2026.
Di tengah prosesi duka, pemerintah memanfaatkan momen tersebut untuk menunjukkan bahwa semangat perlawanan terhadap musuh tidak surut meski kehilangan tokoh tertinggi mereka.
Prosesi pemakaman tidak hanya dimaknai sebagai penghormatan terakhir kepada mantan pemimpin mereka, tetapi juga menjadi simbol persatuan nasional sekaligus pesan politik kepada dunia internasional bahwa mereka tetap berdiri menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel.
Jenazah Ali Khamenei disemayamkan di Grand Mosalla. Ia nantinya akan dibawa berkeliling ke sejumlah kota besar dan pusat-pusat suci umat Syiah. Jenazah Ali Khamenei pada akhirnya akan dimakamkan di Mashhad.
Iran mengharapkan jutaan warga mengikuti rangkaian prosesi tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus demonstrasi solidaritas nasional setelah perang yang mengguncang negara itu.
Meski demikian, satu sosok penting justru tidak terlihat dalam upacara tersebut, yakni Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Sejak ditunjuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi, ia belum pernah muncul di hadapan publik. Hingga hari pertama prosesi pemakaman, keberadaannya masih menjadi tanda tanya dan belum ada penjelasan resmi mengenai ketidakhadirannya.
Adapun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan pihaknya memberikan "waktu jeda" bagi musuh untuk melaksanakan pemakaman dari Ali Khamenei. Ia memberikan waktu satu minggu bagi mereka sebelum melanjutkan proses negosiasi antara kedua negara.
Namun, Teheran menunjukkan bahwa retorika permusuhan belum mereda. Seruan balas dendam terus menggema sepanjang upacara, memperlihatkan bahwa ketegangan politik dan militer antara keduanya masih menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi yang dibangun dalam prosesi pemakaman tersebut.
Baca Juga: Jokowi Ditantang Buktikan Kerugian Akibat Tuduhan Soal Ijazah, Dokter Tifa: Jangan-jangan Hanya...
Bagi Iran, rangkaian pemakaman ini menjadi kesempatan untuk memperlihatkan persatuan rakyat sekaligus menegaskan sikap menentang terhadap Amerika dan Israel. Dengan demikian, upacara tersebut bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan juga simbol keteguhan politik di tengah rivalitas yang masih berlangsung dengan Barat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: