Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kemenperin Dorong Pisang dan Tenun Manggarai Timur Naik Kelas Lewat Hilirisasi

        Kemenperin Dorong Pisang dan Tenun Manggarai Timur Naik Kelas Lewat Hilirisasi Kredit Foto: WE
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan daerah agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), upaya tersebut dilakukan melalui penguatan Sentra IKM Olahan Pisang dan Sentra IKM Tenun.

        Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Selama ini, berbagai komoditas seperti pisang, jagung, singkong, dan sorgum memiliki potensi besar, namun belum seluruhnya diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

        Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan sentra IKM menjadi salah satu instrumen untuk memastikan manfaat ekonomi dari sumber daya lokal dapat dinikmati langsung oleh masyarakat daerah.

        "Kementerian Perindustrian terus mengajak pemerintah daerah untuk mengidentifikasi potensi sentra IKM yang dimiliki sehingga pembinaan industri dapat dilakukan secara lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu memaksimalkan pengembangan sektor industri secara berkelanjutan," kata Agus dalam keterangannya, Minggu (5/7).

        Menurutnya, pemerintah tidak hanya membangun fasilitas sentra IKM, tetapi juga memastikan fasilitas tersebut mampu beroperasi dan memberikan dampak ekonomi nyata.

        Kabupaten Manggarai Timur sendiri memperoleh dukungan pengembangan Sentra IKM Olahan Pisang melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Perindustrian pada 2022. Sentra tersebut disiapkan untuk mengembangkan berbagai produk turunan pisang, mulai dari keripik, sale, tepung pisang, puree, hingga aneka makanan olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk segar.

        Agus menilai model pengembangan seperti ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi yang saat ini terus didorong pemerintah di berbagai daerah.

        Baca Juga: Kemenperin Percepat Pemulihan 3.020 Industri Kecil Terdampak Bencana di Sumatra

        "Pengembangan Sentra IKM Olahan Pisang di Kabupaten Manggarai Timur merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mempercepat hilirisasi komoditas unggulan daerah seperti pisang, jagung, singkong, sorgum, dan berbagai komoditas lokal lainnya," ujarnya.

        Ia menjelaskan, hilirisasi tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga mendukung diversifikasi pangan nasional berbasis potensi lokal. Karena itu, industri pengolahan perlu dibangun sedekat mungkin dengan sumber bahan baku agar manfaat ekonomi tidak terpusat di wilayah lain.

        "Kita perlu membangun produk antara atau intermediate product sedekat mungkin dengan sentra bahan baku agar nilai tambah dinikmati oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah," katanya.

        Untuk mendukung operasional sentra, Kemenperin bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur telah membangun berbagai fasilitas penunjang, mulai dari gedung produksi, fasilitas pengemasan, gudang, ruang promosi, hingga penyediaan mesin dan peralatan produksi.

        Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, keberadaan fasilitas tersebut harus menjadi pusat aktivitas industri bagi pelaku IKM setempat.

        "Fasilitas yang telah dibangun ini harus menjadi pusat produksi, pusat pembelajaran, pusat promosi, sekaligus pusat kolaborasi bagi para pelaku IKM olahan pangan di Manggarai Timur," ujarnya.

        Selain pengembangan industri pangan, Manggarai Timur juga mendapat dukungan pengembangan Sentra IKM Tenun yang telah dibangun melalui skema DAK sejak 2016 hingga 2018.

        Baca Juga: Kemenperin Dorong Kawasan Industri Pangkas Emisi, IWIP Masuk Program NZIP

        Sekretaris Ditjen IKMA Yedi Sabaryadi menilai industri tenun memiliki peluang besar untuk berkembang karena memadukan aspek budaya dan ekonomi. Namun, agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, inovasi produk tetap diperlukan tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.

        "Inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi justru menjadi cara untuk menjaga agar warisan budaya tetap hidup, diterima generasi muda, dan mampu menembus pasar yang lebih luas," kata Yedi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: