Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Produksi Hanya 65%, Freeport Sebut Setoran ke Negara Bakal Turun di 2026

        Produksi Hanya 65%, Freeport Sebut Setoran ke Negara Bakal Turun di 2026 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, melaporkan bahwa produksi tambang Grasberg pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 65% dari kapasitas normal. 

        Penurunan tersebut merupakan dampak proses pemulihan operasional pasca-insiden longsor lumpur (mud rush) di area Grasberg Block Caving (GBC) pada September tahun lalu.

        Tony menjelaskan proses pemulihan berjalan lebih lambat karena perusahaan mengedepankan aspek kehati-hatian dalam perbaikan demi menjamin keselamatan kerja seluruh karyawan.

        "Kami masih melakukan berbagai perbaikan untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan operasional benar-benar aman. Oleh karena itu, proses ramp-up produksi berjalan lebih lambat daripada yang kami perkirakan sebelumnya. Pada tahun ini, produksi diperkirakan mencapai 65 persen dari total kapasitas," ungkap Tony dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (14/7/2026).

        Saat ini, kapasitas operasional PTFI masih berada di kisaran 60%. 

        Sebelumnya, induk usaha PTFI, Freeport-McMoRan (FCX), mengungkapkan pembukaan kembali Grasberg Block Caving (GBC) Blok Produksi 2 dan 3 dijadwalkan dimulai pada kuartal II/2026, sedangkan Blok Produksi 1 diperkirakan kembali beroperasi pada 2027.

        Dalam kondisi operasi normal, produksi bijih (ore) PTFI mampu melampaui 200 ribu ton per hari. Namun, akibat proses pemulihan yang masih berlangsung, produksi bijih pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 124 ribu ton per hari. 

        Volume tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 170 ribu ton per hari pada 2027 sebelum kembali melampaui 200 ribu ton per hari mulai 2028.

        Tony mengatakan peningkatan produksi akan dilakukan secara bertahap hingga kapasitas penuh kembali tercapai. 

        Pada semester I 2027, produksi diperkirakan mencapai sekitar 75% dari kapasitas normal, sebelum kembali mencapai 100% menjelang akhir tahun. 

        Setelah kapasitas tambang pulih, PTFI juga memperkirakan tambang bawah tanah Kucing Liar mulai beroperasi pada 2029 untuk menopang peningkatan produksi pada tahun-tahun berikutnya.

        Baca Juga: Smelter Manyar Freeport Kembali Beroperasi September 2026, Kapasitas 1,7 Juta Ton Mulai Dikejar

        Baca Juga: Jatah 12% Saham Freeport 2041 Masih Berproses, Bola Kini di Pemerintah

        Pemulihan produksi bijih tersebut diproyeksikan mendorong kenaikan volume logam yang dihasilkan PTFI. 

        Produksi tembaga diperkirakan mencapai sekitar 800 juta pound pada 2026, meningkat menjadi 1,2 miliar pound pada 2027, dan sekitar 1,6 miliar pound pada 2028. 

        Sementara itu, produksi emas diproyeksikan naik dari sekitar 700 ribu ounce pada 2026 menjadi 1 juta ounce pada 2027 sebelum mencapai sekitar 1,4 juta ounce pada 2028.

        Belum optimalnya kapasitas produksi tersebut berdampak langsung terhadap penurunan proyeksi penerimaan negara dari PTFI pada 2026. 

        Dengan asumsi harga tembaga sebesar US$6 per pound dan harga emas US$4.500 per ounce, setoran ke kas negara diperkirakan turun dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai US$4,3 miliar.

        "Pada tahun 2026, penerimaan negara yang terdiri atas pajak, dividen, dan royalti diperkirakan menurun menjadi 2,6 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya sebesar 4,3 miliar dolar AS. Dalam jumlah tersebut, terdapat dividen sebesar 1,1 miliar dolar AS yang akan diterima pemerintah melalui MIND ID," katanya.

        Seiring pulihnya produksi tambang, kontribusi PTFI kepada negara diproyeksikan kembali meningkat. 

        Perusahaan memperkirakan penerimaan negara mencapai US$4,7 miliar pada 2027, kemudian naik menjadi US$7,1 miliar pada 2028 dan 2029, sebelum menembus US$8 miliar pada 2030. 

        Proyeksi tersebut didorong oleh peningkatan produksi tambang secara bertahap hingga kembali beroperasi pada kapasitas penuh.

        "Ketika kapasitas produksi penuh telah tercapai, penerimaan negara diperkirakan dapat melebihi 7 miliar dolar AS per tahun. Apabila dikonversikan ke dalam rupiah, nilainya mencapai sekitar Rp120 triliun per tahun. Penerimaan tersebut diperkirakan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya," tutup Tony Wenas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: