Kredit Foto: Instagram/PT Freeport Indonesia
PT Freeport Indonesia (PTFI) tidak hanya menghasilkan emas dan tembaga dari fasilitas pemurnian di Gresik, Jawa Timur. Smelter tersebut juga menghasilkan sejumlah produk bernilai lain, mulai dari platina, paladium, hingga asam sulfat dengan produksi mencapai 1,5 juta ton per tahun.
Produk-produk tersebut berasal dari proses pengolahan konsentrat tembaga melalui smelter dan Precious Metal Refinery (PMR). Kehadiran fasilitas tersebut membuat Freeport tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga berbagai produk turunan bernilai ekonomi.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan fasilitas smelter dan PMR di Gresik menghasilkan berbagai produk mulai dari katoda tembaga hingga logam kelompok platinum.
"Produk yang dihasilkan dari smelter dan PMR tersebut adalah katoda tembaga, emas murni, perak murni dalam bentuk batangan, dan Platinum Group Metals," ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Saat ini Freeport memiliki dua fasilitas pemurnian di kawasan Gresik dengan total kapasitas pengolahan mencapai sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun. Kapasitas tersebut berasal dari smelter baru sebesar 1,7 juta ton konsentrat per tahun dan PT Smelting yang telah ditingkatkan kapasitasnya menjadi 1,3 juta ton per tahun.
Dari sisi produk utama, smelter baru Freeport diproyeksikan menghasilkan sekitar 600.000 ton katoda tembaga per tahun. Jika digabungkan dengan produksi PT Smelting, total produksi katoda tembaga dapat mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.
Namun, nilai tambah lain berasal dari kandungan logam berharga yang terdapat dalam lumpur anoda. Setelah dimurnikan melalui PMR, material tersebut menghasilkan emas, perak, serta logam kelompok platinum atau Platinum Group Metals (PGM).
Produksi emas dari fasilitas tersebut diperkirakan mencapai 50 ton per tahun. Seluruh produksi emas tersebut direncanakan akan diambil oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Sementara produksi perak diperkirakan mencapai 200 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
Selain emas dan perak, Freeport juga menghasilkan platina sekitar 30 kilogram per tahun. Produk tersebut akan dipasarkan sesuai kebutuhan, baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
"Apabila terdapat kebutuhan di dalam negeri, platina tersebut akan dijual di dalam negeri. Apabila belum terdapat kebutuhan domestik, produk tersebut akan diekspor," kata Tony.
Tidak hanya logam mulia, Freeport juga menghasilkan sejumlah logam ikutan lainnya. Produksinya mencakup paladium sekitar 375 kilogram per tahun, selenium 285 ton per tahun, bismut 220 ton per tahun, serta timbal sekitar 2.200 ton per tahun.
Baca Juga: Emas Freeport Mengalir ke Antam, Target 50 Ton Setahun
Baca Juga: Smelter Tembaga Freeport Senilai US$4,2 Miliar Siap Beroperasi Kembali pada September 2026
Selain produk logam, smelter Freeport juga menghasilkan produk samping industri berupa asam sulfat. Produk tersebut berasal dari proses pengolahan gas hasil peleburan dan menjadi salah satu hasil tambahan dari operasi smelter.
"Di samping itu, smelter akan memproduksi asam sulfat sekitar 1,5 juta ton per tahun yang direncanakan untuk dijual di dalam negeri," tandas Tony.
Selain asam sulfat, Freeport juga menghasilkan copper slag sekitar 1,3 juta ton per tahun dan gipsum sekitar 150.000 ton per tahun.
Beragam produk tersebut menunjukkan perubahan bisnis Freeport setelah hilirisasi berjalan. Perusahaan tidak lagi hanya menghasilkan konsentrat tembaga, tetapi juga produk akhir dan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: