Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Diumumkan Trump, Dunia Kini Bisa Anggap Tak Ada Lagi Perjanjian Damai Iran-Amerika

        Diumumkan Trump, Dunia Kini Bisa Anggap Tak Ada Lagi Perjanjian Damai Iran-Amerika Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengakui bahwa dirinya tidak lagi memedulikan keberlangsungan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Washington dan Teheran. Pernyataan tersebut memperkuat anggapan bahwa kesepakatan damai yang sempat ditandatangani kedua negara kini praktis telah berakhir.

        Trump mengatakan pihaknya sudah tidak peduli dengan kesepakatan dari Iran dan Amerika. Teheran sebelumnya mengumumkan tidak lagi mematuhi isi perjanjian yang disepakati pada pertengahan Juni 2026.

        Baca Juga: Ada Kejanggalan di Balik Upaya Roy Suryo Berkali-kali Ajukan Praperadilan di Kasus Ijazah Jokowi

        "Saya tidak peduli," kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (20/7/2026).

        Trump menegaskan bahwa fokus utama pemerintahannya bukan lagi mempertahankan kesepakatan damai, melainkan memastikan musuh tidak pernah memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir.

        Baginya, isu nuklir tetap menjadi prioritas utama dibandingkan mempertahankan dokumen kesepahaman yang kini telah ditinggalkan kedua belah pihak.

        Pernyataan Trump tersebut muncul setelah hubungan kedua negara kembali memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Iran sebelumnya menyatakan tidak lagi terikat pada perjanjian damai karena menilai tak ada itikad baik dari Amerika Serikat. Sebaliknya, Washington juga menuduh mereka tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati.

        Dengan sikap kedua negara yang saling menyalahkan, peluang menghidupkan kembali kesepakatan damai kini semakin kecil. Hal ini juga tercermin dengan dinamika yang terjadi di Timur Tengah.

        Di lapangan, konflik bersenjata juga terus mengalami eskalasi. Serangan terbaru dipicu oleh perselisihan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Ia merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

        Sejak itu, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer yang memperluas ketegangan di Timur Tengah.

        Baca Juga: Netanyahu Tak Yakin Menang Pemilu Israel, Kini Berupaya Dapatkan Jaminan Pengamanan Seumur Hidup

        Dampak perang bahkan mulai dirasakan negara-negara lain di Semenanjung Arab. Salah satu insiden terbaru terjadi di Yordania. Dua Personel Amerika Serikat dilaporkan tewas akibat serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan Iran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: