Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BAJA Bidik Dana Rp450 Miliar Lewat Right Issue untuk Bayar Utang

        BAJA Bidik Dana Rp450 Miliar Lewat Right Issue untuk Bayar Utang Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) menargetkan penghimpunan dana hingga Rp450 miliar melalui aksi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue. Mayoritas dana yang diperoleh akan digunakan untuk melunasi utang kepada PT Sarana Steel sebagai bagian dari strategi memperkuat struktur permodalan dan menyehatkan neraca keuangan.

        Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (20/7/2026), perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 900 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham. Jumlah tersebut setara 50% dari modal ditempatkan dan disetor penuh saat ini dengan rasio right issue 2:1, yakni setiap pemegang dua saham lama berhak membeli satu saham baru.

        Direktur BAJA Jonathan Suwandi Jusuf mengatakan sekitar 98,96% atau Rp445,32 miliar dari dana hasil right issue akan digunakan untuk melunasi seluruh utang perseroan kepada PT Sarana Steel. Sementara sisanya sekitar Rp4,68 miliar dialokasikan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku. Setelah dikurangi biaya emisi, dana bersih untuk modal kerja diperkirakan sekitar Rp2,58 miliar.

        Menurut Jonathan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi deleveraging di tengah tingginya volatilitas pasar dan ketidakpastian ekonomi global.

        "Melalui pelunasan utang tersebut, kami berharap dapat mengurangi beban keuangan secara signifikan sehingga potensi laba di masa mendatang dapat dinikmati secara lebih optimal oleh para pemegang saham," ujarnya.

        Ia menambahkan, selama ini struktur utang dalam denominasi dolar Amerika Serikat membuat perseroan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dan tingginya beban bunga. Dengan berkurangnya kewajiban tersebut, BAJA berharap memiliki neraca yang lebih sehat sekaligus meningkatkan kemampuan memperoleh pendanaan baru dari sektor perbankan.

        Perseroan menyebut telah menyelesaikan restrukturisasi keuangan, termasuk pembayaran pokok utang kepada pihak afiliasi senilai US$20,6 juta dan pelunasan bunga akrual sebesar Rp127,76 miliar. Setelah seluruh proses tersebut, nilai ekuitas BAJA diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp460,87 miliar dari posisi Rp10,87 miliar per 31 Maret 2026.

        Harga pelaksanaan right issue sebesar Rp500 per saham juga menjadi perhatian BEI karena berada di atas kisaran nilai wajar saham BAJA yang diperkirakan berada pada level Rp116 hingga Rp197 per saham.

        Menanggapi hal tersebut, Jonathan mengatakan harga pelaksanaan ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi fundamental perseroan pascarestrukturisasi keuangan, bukan semata-mata mengacu pada harga pasar.

        "Rasio tersebut dipilih untuk memperoleh dana sesuai kebutuhan perusahaan sekaligus menjaga tingkat dilusi kepemilikan pemegang saham. Dengan skema tersebut, potensi dilusi diperkirakan tidak akan melebihi 33,33% dari total modal ditempatkan dan disetor setelah right issue," katanya.

        Dalam aksi korporasi ini, enam pemegang saham pengendali, yakni Pandji Surya Soerjoprahono, Handaja Susanto, Entario Widjaja Susanto, Soediarto Soerjoprahono, Laksmono Tirta Kusumo, dan Anton Sebastian, memutuskan tidak melaksanakan haknya.

        Namun, Jonathan menegaskan keputusan tersebut tidak akan mengubah struktur pengendalian perusahaan karena PT Sarana Steel telah menyatakan kesiapannya menjadi pembeli siaga (standby buyer) atas saham yang tidak diambil pemegang saham.

        "Keputusan tersebut merupakan kebijakan investasi masing-masing pemegang saham dan tidak akan mengubah struktur pengendalian perseroan," ujarnya.

        Baca Juga: Andry Hakim Pertahankan Kepemilikan 5,07% di CBRE Jelang Rights Issue

        Baca Juga: Anabatic Rights Issue (ATIC) Rp289 Miliar untuk Bayar Utang ke Pemegang Saham

        Rencana right issue ini telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 31 Maret 2026.

        Adapun jadwal pelaksanaan aksi korporasi tersebut meliputi cum right di pasar reguler dan negosiasi pada 24 Agustus 2026, ex-rights pada 26 Agustus 2026, recording date pada 27 Agustus 2026, perdagangan HMETD pada 31 Agustus hingga 4 September 2026, serta distribusi saham hasil pelaksanaan HMETD pada 2-8 September 2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: