Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Bensin Lagi-lagi Meroket Gegara Kembali Meletusnya Perang Iran-Amerika Serikat

        Harga Bensin Lagi-lagi Meroket Gegara Kembali Meletusnya Perang Iran-Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga Bensin di Amerika Serikat (AS) kembali mengalami lonjakan tajam seiring memanasnya konflik antara negara tersebut dan Iran. Perang tersebut diketahui memunculkan kembali gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

        Dikutip Selasa (21/7), Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan rata-rata nasional harga bensin reguler di negara tersebut mencapai US$4,003/galon. Angka tersebut meningkat dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di US$3,872/galon. Ia juga sekaligus melonjak jauh dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih berada di kisaran US$3,141/galon.

        Baca Juga: Kejanggalan di Kasus Ijazah Jokowi: Tantangan Kubu Roy Suryo Tak Dijawab oleh Hakim Praperadilan

        Kenaikan ini terjadi setelah kesepakatan sementara yang sempat dicapai bulan lalu untuk menghentikan konflik gagal dipertahankan. Memburuknya situasi keamanan di kawasan membuat aktivitas pelayaran nyaris terhenti di Selat Hormuz.

        Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia. Sebelum perang kembali berkecamuk, sekitar dua puluh persen pasokan minyak global dikirim melalui kawasan tersebut. Ketika jalur itu terganggu, pasar energi langsung merespons dengan kenaikan harga minyak mentah yang kemudian diteruskan ke harga bahan bakar di berbagai negara.

        Situasi semakin memanas menyusul manuver dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Iran. Ia mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik dan jembatan strategis milik negara tersebut sebagai upaya memaksa mereka melonggarkan penguasaannya atas Selat Hormuz.

        Perkembangan terbaru bahkan menunjukkan militer negara itu mulai merealisasikan strategi tersebut melalui sejumlah serangan terhadap infrastruktur strategis di Iran.

        Di sisi lain, Amerika Serikat juga kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan untuk menghambat ekspor minyak mentah dari Iran. Langkah ini diperkirakan semakin mempersempit pasokan minyak ke pasar internasional dan meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi krisis energi yang lebih besar.

        Militer Amerika Serikat menyebut sejak blokade diberlakukan kembali pekan lalu, sedikitnya enam kapal telah dialihkan dari jalur pelayaran menuju Iran dan satu kapal lainnya berhasil dilumpuhkan.

        Dampak konflik tersebut kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di Amerika. Hal ini terjadi melalui kenaikan harga bahan bakar di stasiun pengisian bensin. 22 negara bagian kini mencatat rata-rata harga bensin telah melampaui US$4 per galon.

        Bahkan, pengendara di tiga negara bagian harus membayar lebih dari US$5 per galon. Hal itu menjadikan biaya transportasi harian semakin mahal di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

        Kenaikan harga bensin ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar energi global terhadap perkembangan geopolitik, khususnya yang melibatkan kawasan dari Timur Tengah. Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan konflik kedua negara belum mereda, tekanan terhadap harga minyak mentah diperkirakan masih akan berlanjut.

        Baca Juga: Pengaruh hingga Jejaring Febrie Adriansyah Masih Kuat di Kejaksaan, Publik Indonesia Diminta Waspada

        Kondisi tersebut juga menjadi perhatian banyak negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Meski harga bahan bakar domestik tidak selalu bergerak sejalan dengan harga internasional, lonjakan minyak dunia dalam waktu lama berpotensi meningkatkan beban impor energi dan memengaruhi kebijakan harga bahan bakar di dalam negeri.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: