Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Dibuka Melemah, Investor Masih Menanti Kepastian Gubernur BI Baru

        IHSG Dibuka Melemah, Investor Masih Menanti Kepastian Gubernur BI Baru Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (28/7/2026) di zona merah. Pelemahan ini mencerminkan sikap wait and see investor yang masih menunggu kepastian mengenai penunjukan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif di tengah proses transisi kepemimpinan bank sentral.

        Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada awal perdagangan IHSG berada di level 6.175,19, turun 0,17% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 6.185,78.

        Pada awal perdagangan, nilai transaksi tercatat sekitar Rp115,33 miliar dengan volume mencapai 277,43 juta saham yang diperdagangkan dalam 26.204 kali transaksi.

        Pergerakan saham masih cenderung bervariasi. Sebanyak 205 saham menguat, 97 saham melemah, dan 317 saham bergerak stagnan. Kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar masih memilih menunggu arah sentimen baru sebelum mengambil keputusan investasi.

        Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan bergerak terbatas atau berkonsolidasi di kisaran 6.080-6.250 pada perdagangan Selasa (28/7/2026).

        "IHSG diperkirakan cenderung berkonsolidasi di rentang 6.080-6.250," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

        Dari sisi teknikal, indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) masih berada di area positif, meski momentum penguatannya mulai melambat. Sementara itu, indikator Stochastic RSI bergerak melemah di area pivot. Meski demikian, IHSG masih bertahan di atas MA20 dan MA50, sehingga peluang bergerak sideways dinilai masih cukup besar.

        Dari sisi sentimen, perhatian investor masih tertuju pada pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI. Pergantian pimpinan bank sentral dinilai sempat meningkatkan ketidakpastian pasar, terutama di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga.

        Meski demikian, penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI dinilai mampu meredam kekhawatiran pasar. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, serta stabilitas sistem keuangan.

        Baca Juga: IHSG Berakhir di Zona Merah, Saham Keuangan Malah Jadi Penahan Koreksi

        Baca Juga: Independensi BI Dipertanyakan Pascamundurnya Perry Warjiyo, Rupiah dan SBN Berpotensi Tertekan

        Baca Juga: 20 Saham Ini Kena Aksi Borong Asing, Saat IHSG Melemah dan Perry Undur Diri

        Ke depan, fokus investor akan beralih pada penunjukan Gubernur BI definitif. Menurut Phintraco Sekuritas, sosok yang terpilih serta kelancaran proses transisi akan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap independensi Bank Indonesia.

        Sebaliknya, apabila muncul keraguan terhadap independensi BI atau terjadi perubahan kebijakan moneter yang signifikan, kondisi tersebut berpotensi menekan nilai tukar rupiah, meningkatkan volatilitas di pasar obligasi, serta memberi tekanan pada saham-saham sektor perbankan.

        Selain perkembangan di Bank Indonesia, pelaku pasar juga mencermati rebalancing indeks LQ45, IDX30, IDX80, dan Kompas100 yang mulai berlaku pada 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026. Perubahan komposisi indeks tersebut diperkirakan akan memengaruhi pergerakan sejumlah saham berkapitalisasi besar dalam beberapa waktu ke depan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: