Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Masyarakat Pakai Paylater buat Beli Sembako, Industri Diminta Waspada

        Masyarakat Pakai Paylater buat Beli Sembako, Industri Diminta Waspada Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Tren meningkatnya penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mulai menjadi perhatian. Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menilai fenomena tersebut perlu dicermati oleh industri pembiayaan maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) apabila berlangsung dalam jangka panjang.

        Heru mengatakan, pada dasarnya layanan paylater dirancang sebagai instrumen pengelolaan arus kas (cash flow), bukan sebagai sumber pembiayaan utama untuk membeli kebutuhan pokok secara berulang.

        Meski demikian, ia mengingatkan masih terlalu dini menyimpulkan bahwa meningkatnya transaksi paylater untuk belanja harian mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat.

        Hal itu menyusul temuan PT Kredivo Finance Indonesia (Kredivo) yang mencatat kenaikan transaksi pada kategori groceries dalam dua bulan terakhir. Menurut Heru, peningkatan tersebut masih berpotensi dipengaruhi program promosi yang ditawarkan perusahaan pembiayaan.

        "Menurut saya, belum bisa disimpulkan sebagai tekanan daya beli. Bisa jadi peningkatan tersebut dipengaruhi program promosi yang membuat konsumen memilih paylater untuk memperoleh diskon atau cashback," ujar Heru kepada Warta Ekonomi, Selasa (28/7/2026).

        Heru menilai, diperlukan pengamatan dalam beberapa bulan ke depan untuk memastikan apakah tren tersebut benar-benar mencerminkan perubahan perilaku pembayaran masyarakat atau hanya bersifat sementara karena insentif promosi.

        Apabila transaksi tetap meningkat setelah program promosi berakhir, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa masyarakat mulai menjadikan paylater sebagai metode pembayaran rutin untuk kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, jika transaksi kembali normal, maka promosi kemungkinan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan penggunaan.

        "Saya melihat masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Diperlukan data beberapa bulan ke depan untuk melihat apakah perilaku tersebut bertahan setelah program promosi selesai. Jika transaksi tetap meningkat tanpa insentif, berarti ada perubahan perilaku pembayaran. Namun jika kembali normal, kemungkinan besar faktor promosi menjadi pendorong utama," katanya.

        Ia menambahkan, analisis terhadap tren penggunaan paylater juga perlu mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi, seperti inflasi, tingkat konsumsi, dan daya beli masyarakat. Dengan demikian, kesimpulan yang diambil tidak bersifat prematur.

        Sebelumnya, Kredivo mengungkapkan adanya pergeseran penggunaan layanan BNPL dari transaksi bernilai besar menuju kebutuhan sehari-hari. Namun, perusahaan belum dapat memastikan penyebab perubahan tersebut.

        Baca Juga: Dompet Masyarakat Makin Tipis? Kredivo Ungkap Paylater Kini Dipakai Buat Belanja Harian

        Baca Juga: Kredit Macet Paylater Naik Jadi 3,44%, OJK Perketat Aturan BNPL Lewat PADK Baru

        Baca Juga: Aturan Baru OJK! Pengguna Paylater Kini Dibatasi Maksimal Tiga Aplikasi

        Head of Marketing Kredivo Indina Andamari mengatakan peningkatan transaksi pada kategori groceries baru terjadi dalam dua bulan terakhir sehingga masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.

        "Kalau kita sebenarnya melihatnya baru dua bulan ini, jadi kita masih mengkaji apakah kenaikan ini karena kondisi ekonomi atau kami melakukan program," ujar Indina dalam diskusi media, Senin (27/7/2026).

        Di sisi lain, industri BNPL masih mencatat pertumbuhan yang kuat. Berdasarkan data OJK, pembiayaan BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,18 triliun per Mei 2026, tumbuh 53,78% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross tercatat sebesar 3,44%.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: