Pemerintah Klaim Pembangunan Jembatan Garuda Capai 49,9%, Sudah 1.416 Jembatan
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Pemerintah mengklaim pembangunan Program Jembatan Perintis atau Jembatan Garuda telah mencapai hampir separuh dari target nasional. Hingga 28 Juli 2026, sebanyak 1.416 jembatan atau 49,9 persen dari target 2.838 titik telah selesai dibangun di 38 provinsi dan mulai dimanfaatkan masyarakat.
Plt Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Kurnia Ramadhana mengatakan program tersebut merupakan bagian dari Satuan Tugas (Satgas) Khusus Darurat Percepatan Pembangunan Jembatan yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto pada 28 November 2025 untuk mempercepat penyediaan akses dasar di daerah terpencil, terisolasi, dan wilayah terdampak bencana.
"Program ini merupakan upaya percepatan penyediaan akses dasar bagi masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, dan wilayah terdampak bencana dengan titik fokus utama untuk membuka konektivitas yang selama ini menghambat mobilitas masyarakat, distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi," ujar Kurnia dalam update PHTC di Kantor Bakom, Rabu (29/7/2026).
Berdasarkan data Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat per 28 Juli 2026, sebanyak 1.422 titik jembatan lainnya masih dalam tahap pembangunan. Proyek tersebut terdiri atas 80 jembatan bailey, 524 jembatan armco, 459 jembatan beton, dan 353 jembatan perintis yang telah rampung.
Kurnia menjelaskan, keberadaan Jembatan Garuda telah menghubungkan sekitar 7.371 desa dan kelurahan dengan total penerima manfaat mencapai 4.252.500 jiwa. Infrastruktur tersebut juga mempermudah akses menuju 8.505 sekolah, 4.250 fasilitas kesehatan, serta 4.360 fasilitas ekonomi seperti pasar.
Menurutnya, dampak pembangunan jembatan juga terlihat dari efisiensi waktu perjalanan masyarakat.
"Secara rata-rata, waktu tempuh masyarakat pada titik-titik yang telah tersambung jembatan berkurang antara 45 hingga 50 menit," ujarnya.
Selain itu, biaya logistik hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan turun sekitar 30–50 persen, sementara distribusi hasil panen menjadi lebih cepat sehingga kualitas komoditas lebih terjaga dan pendapatan petani meningkat.
Di sektor pendidikan, anak-anak sekolah disebut tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai atau menggunakan jalur penyeberangan yang tidak layak. Mobilitas guru dan siswa juga menjadi lebih lancar sepanjang tahun, termasuk saat musim hujan.
Sementara di bidang kesehatan, akses ambulans menuju desa-desa terpencil menjadi lebih mudah sehingga mempercepat layanan kegawatdaruratan dan proses rujukan pasien.
Baca Juga: Petani Bisa Nikmati Rp263 Triliun dengan Adanya Kopdes Merah Putih
Dari sisi sebaran proyek, Kodam Iskandar Muda di Aceh dan Kodam I/Bukit Barisan di Sumatera Utara menjadi wilayah dengan jumlah pembangunan jembatan terbanyak, masing-masing sebanyak 341 dan 323 titik. Adapun tingkat penyelesaian tertinggi secara persentase dicatat oleh Kodam Jaya dengan capaian 87,1%, disusul Kodam Teuku Umar sebesar 77,6%.
Pemerintah menyebut pendanaan program mayoritas bersumber dari APBN, dengan dukungan pemerintah daerah, swadaya masyarakat, program TNI Manunggal Membangun Desa, serta Kementerian Pertahanan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: