Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        UMKM Bogor Jatuh Bangun Namun Sukses Bangkit usai Dibantu Sandiaga Uno

        UMKM Bogor Jatuh Bangun Namun Sukses Bangkit usai Dibantu Sandiaga Uno Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kesuksesan sebuah usaha kerap menyimpan cerita panjang yang tidak banyak diketahui publik. Pendiri Riva Cake Bogor, Vini menceritakan bagaimana di balik berkembangnya bisnis tersebut, tersimpan kisah perjuangan mulai dari kehabisan modal, kehilangan aset hingga harus merantau demi mempertahankan kehidupan sampai pada kesempatan usahanya dikenal melalui produk unggulannya, Kue Sarmut Talas. 

        Perjalanan itu dimulai jauh sebelum Riva Cake menjadi salah satu pelaku UMKM yang dikenal di Kabupaten Bogor. Vini mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan tata boga. Ia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Perhotelan NHI Bandung tahun 1994 jurusan Room Division dan sempat menghabiskan kariernya sebagai supervisor housekeeping di sejumlah hotel.

        Baca Juga: Sidak Acak 3 SPPG di Bogor, Kepala BGN Puji Kepatuhan Prosedur Dapur Umum

        Keinginan untuk memiliki usaha sendiri muncul setelah bertahun-tahun bekerja di industri perhotelan. Pada 2010, ia melihat peluang bisnis dengan memproduksi roti burger untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pesantren di wilayah Sukabumi.

        "Dulu saya produksi roti burger untuk pesantren-pesantren dari Cigombong sampai Cibadak. Produksinya bisa mencapai 800 roti per hari," kenangnya, dikutip Rabu (29/7/2026).

        Usaha tersebut berkembang cukup pesat hingga memberinya keberanian untuk membuka bisnis bakery yang lebih besar. Bermodal sekitar Rp100 juta hasil usaha burger, Vini menyewa sebuah ruko dan mulai membangun toko roti pada 2014.

        Namun keputusan itu justru menjadi titik terberat dalam perjalanan usahanya. Tanpa pengalaman menyusun strategi bisnis maupun memahami karakter pasar, bakery yang dibangunnya tidak mampu menarik minat konsumen. Produk yang dijual dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar Cigombong.

        Dalam waktu sekitar satu tahun, seluruh modal yang dimiliki habis. Demi mempertahankan usaha, ia bahkan harus mengagunkan mobil pribadi. Kondisi keuangan yang terus memburuk membuat kendaraan tersebut akhirnya disita oleh pihak leasing.

        Kegagalan itu memaksa Vini bersama suaminya mengambil keputusan besar, yakni meninggalkan Bogor dan memulai hidup baru di Palembang.

        "Kami berangkat hanya membawa satu mesin giling mie. Peralatan bakery yang lain ditinggalkan karena tidak punya biaya untuk mengangkutnya," ujarnya.

        Di kota tersebut, keduanya mencoba bangkit dengan membuka usaha mie ayam. Bisnis baru itu mulai menunjukkan perkembangan bahkan menarik minat calon mitra. Namun cobaan kembali datang ketika adik bungsu Vini meninggal dunia. Ia pun memutuskan pulang ke Bogor untuk merawat sang ibu sehingga usaha mie ayam di Palembang terpaksa dihentikan.

        Harapan baru muncul ketika ketua RT setempat mengajaknya mengikuti bazar Ramadan. Awalnya Vini kembali menjual burger, tetapi respons pasar tidak sesuai harapan. Ia kemudian mencoba menjual kue sus, risoles, dan lemper dalam jumlah terbatas.

        Di luar dugaan, seluruh dagangan habis terjual sebelum waktu berbuka puasa. Momen sederhana itu menjadi titik balik yang mengembalikan rasa percaya dirinya untuk kembali membangun usaha.

        Berawal dari etalase kecil di area parkir sebuah ruko, Vini mulai menerima pesanan aneka kue dari kantor, sekolah, hingga masyarakat sekitar. Perlahan, usaha yang kemudian dikenal sebagai Riva Cake terus berkembang.

        Perubahan besar terjadi setelah Vini bergabung dengan komunitas UMKM dan mengikuti berbagai pelatihan, termasuk Program Desa Emas yang diselenggarakan Yayasan Indonesia Setara (YIS). Dari program tersebut, ia menyadari pentingnya memiliki produk khas yang mampu menjadi identitas usaha.

        Berangkat dari potensi talas sebagai komoditas unggulan Bogor, Vini melakukan berbagai eksperimen hingga berhasil mengombinasikan tepung talas dengan kue karamel sarang semut. Hasil inovasi itu kemudian diberi nama Kue Sarmut.

        Pada awal peluncurannya, produk tersebut belum mendapat perhatian luas. Namun strategi membagikan sampel kepada pelanggan berhasil membuat Kue Sarmut semakin dikenal. Kini, kue tersebut menjadi salah satu oleh-oleh khas Cigombong dengan harga sekitar Rp60.000 per boks.

        Selain memproduksi puluhan jenis kue basah dan olahan talas, Vini juga mendirikan Riva Baking Class (RBC) sebagai wadah berbagi ilmu kepada sesama pelaku UMKM. Komunitas yang telah berjalan sekitar lima tahun itu kini memiliki lebih dari 120 anggota dari Bogor, Tangerang, hingga Jakarta.

        Baginya, kesuksesan tidak hanya diukur dari besarnya omzet, melainkan juga dari kemampuan membantu orang lain berkembang.

        "Saya merasa sukses kalau saya bisa membuat orang lain sukses," katanya.

        Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, menilai kisah Vini menjadi contoh bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan seorang pelaku usaha. Menurutnya, pendampingan, inovasi, dan keberanian memanfaatkan potensi lokal dapat menjadi modal penting bagi UMKM untuk naik kelas.

        "Yang kita kejar adalah dampak sosial dan pertumbuhan bersama. Dari usaha kecil yang naik kelas, akan lahir peluang kerja baru di masyarakat," ujar Sandiaga.

        Baca Juga: Sidak Layanan MBG di Bogor, Kepala BGN Ingatkan Petugas Dapur Jangan Cuma Nyari Duit

        Ia pun berpesan kepada para pelaku UMKM agar tidak takut menghadapi kegagalan. "Jangan takut memulai dan jangan takut gagal. Terus belajar, berinovasi, manfaatkan potensi lokal, serta bangun jejaring dan kolaborasi. UMKM yang mau beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri akan memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas," tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: