Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tak Sekadar Bisnis Genset, BACH Punya Prospek Cerah di Tengah Ledakan Infrastruktur Digital

        Tak Sekadar Bisnis Genset, BACH Punya Prospek Cerah di Tengah Ledakan Infrastruktur Digital Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Bach Multi Global Tbk (BACH) dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia. Meski pergerakan saham perseroan pasca penawaran umum perdana (IPO) belum seagresif sejumlah emiten lain, analis menilai investor sebaiknya lebih mencermati kekuatan fundamental dan arah pengembangan bisnis perusahaan.

        Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Alif, mengatakan pergerakan harga saham setelah IPO merupakan hal yang wajar karena dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Menurutnya, BACH justru menunjukkan karakter perusahaan yang lebih fokus membangun bisnis secara berkelanjutan dibanding mengejar sentimen jangka pendek.

        "Yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan menciptakan nilai jangka panjang. Dari sisi fundamental, BACH mencatatkan pertumbuhan yang solid. Pendapatan pada 2025 meningkat hampir 40% menjadi Rp1,73 triliun, sementara laba bersih melonjak hampir dua kali lipat menjadi sekitar Rp155 miliar. Ini menunjukkan pertumbuhan yang ditopang oleh kinerja operasional, bukan sekadar euforia pasar," ujar Alif dalam keterangannya, seperti diberitakan Senin (3/8/2026).

        Menurutnya, masih banyak investor yang memiliki persepsi keliru terhadap model bisnis BACH. Perseroan selama ini lebih dikenal sebagai penyedia generator set (genset), padahal saat ini bisnisnya telah berkembang menjadi penyedia solusi infrastruktur terintegrasi.

        Selain menjual dan menyewakan genset, BACH juga bergerak di bidang konstruksi, instalasi, pemeliharaan, hingga managed service untuk infrastruktur telekomunikasi. Layanan tersebut meliputi pembangunan Base Transceiver Station (BTS), pekerjaan civil mechanical electrical (CME), pembangunan jaringan fiber optik, layanan preventive dan corrective maintenance, hingga penyediaan mobile backup power.

        Diversifikasi bisnis tersebut dinilai membuat struktur pendapatan BACH lebih sehat karena tidak hanya bergantung pada proyek baru, tetapi juga didukung oleh pendapatan berulang (recurring income) dari kontrak layanan jangka panjang.

        Alif menilai prospek BACH akan semakin didorong oleh meningkatnya investasi di sektor telekomunikasi, ekspansi jaringan 5G, pembangunan jaringan fiber optik, serta pesatnya pertumbuhan industri pusat data (data center) di Indonesia.

        "Semakin tinggi konsumsi data, semakin besar kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung. Bukan hanya pembangunan jaringan, tetapi juga kebutuhan backup power, pemeliharaan, dan layanan operasional. Di sinilah posisi BACH menjadi menarik karena berada pada salah satu mata rantai penting dalam ekosistem infrastruktur digital," jelasnya.

        Prospek tersebut juga dinilai semakin kuat setelah BACH menjadi bagian dari ekosistem Grup Djarum melalui Global Telekomunikasi Prima sebagai pemegang saham pengendali. Kondisi ini membuka peluang sinergi dengan berbagai perusahaan di ekosistem digital Grup Djarum, seperti Protelindo, TOWR, SUPR, hingga iForte.

        Menurut Alif, sinergi tersebut berpotensi menghadirkan proyek-proyek baru sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan berulang melalui kontrak layanan jangka panjang. Meski demikian, seluruh peluang tersebut tetap harus dijalankan dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik serta pertimbangan bisnis yang profesional.

        Selain telekomunikasi, BACH juga dinilai memiliki peluang memperluas pasar ke berbagai sektor yang membutuhkan keandalan pasokan listrik, seperti pusat data, manufaktur, kawasan industri, pertambangan, hingga proyek-proyek infrastruktur nasional.

        "Dengan pengalaman di bidang solusi daya dan infrastruktur, perusahaan memiliki ruang ekspansi yang luas tanpa harus keluar dari kompetensi utamanya," katanya.

        Meski prospeknya positif, Alif mengingatkan bahwa BACH tetap menghadapi sejumlah tantangan, antara lain fluktuasi nilai tukar, ketergantungan terhadap pemasok luar negeri, persaingan industri yang semakin ketat, serta kebutuhan modal kerja yang relatif besar.

        "Risiko tersebut tentu harus dikelola dengan baik. Namun selama perusahaan mampu menjaga efisiensi, memperkuat hubungan dengan pelanggan dan pemasok, serta terus mendiversifikasi sumber pendapatan, prospek pertumbuhan jangka panjang BACH tetap sangat menarik," ujarnya.

        Di pasar modal, Alif menilai fokus utama BACH seharusnya tetap pada peningkatan kualitas bisnis dan fundamental, bukan mengejar target masuk ke indeks tertentu seperti LQ45 maupun MSCI.

        Baca Juga: Grup Djarum Resmi Kuasai BACH 51%, Pendiri Pilih Tahan Saham

        Baca Juga: Anak Usaha TOWR Resmi Kuasai 51% Saham BACH

        Baca Juga: Laba Gudang Garam (GGRM) Naik Pesat Jadi Rp2,98 Triliun, Meski Penjualan Turun

        "Masuk ke indeks merupakan hasil dari kinerja yang konsisten, bukan tujuan utama. Jika perusahaan mampu mempertahankan pertumbuhan laba, meningkatkan likuiditas saham, memperkuat tata kelola, serta menjaga keterbukaan informasi, peluang masuk ke berbagai indeks akan terbuka dengan sendirinya," katanya.

        Ia menambahkan, nilai strategis BACH justru terletak pada transformasi bisnisnya menjadi penyedia solusi energi sekaligus infrastruktur telekomunikasi. Kombinasi tersebut memberikan sumber pendapatan yang lebih beragam, meningkatkan porsi recurring income, dan menempatkan BACH pada posisi yang semakin relevan di tengah pesatnya pertumbuhan infrastruktur digital nasional.

        "Selama ini pasar masih banyak yang mengenal BACH sebagai perusahaan genset. Padahal jika melihat model bisnisnya secara utuh, BACH telah bertransformasi menjadi perusahaan pendukung infrastruktur digital. Menurut saya, di situlah letak nilai tambah yang belum sepenuhnya tercermin pada valuasi sahamnya," tutup Alif.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: