Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Toyota Ogah Pindah dari Thailand, Menkeu Purbaya Malah Lempar Candaan: 'Awas Kalau Nggak Kita Pajakin!'

        Toyota Ogah Pindah dari Thailand, Menkeu Purbaya Malah Lempar Candaan: 'Awas Kalau Nggak Kita Pajakin!' Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Toyota kembali menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan candaan yang mengundang perhatian publik. Di tengah upayanya membujuk pabrikan asal Jepang itu memindahkan pusat manufakturnya ke Indonesia, Purbaya sempat berkelakar soal pajak.

        Menurut Purbaya, pemerintah siap memberikan berbagai insentif apabila Toyota bersedia memindahkan basis produksi utamanya dari Thailand ke Indonesia. Namun, ia mengakui langkah tersebut bukan perkara mudah karena Toyota sudah puluhan tahun menjadikan Thailand sebagai basis manufaktur regional.

        "Dan kita akan menyediakan insentif yang cukup untuk Anda memindahkan fasilitas produksi dari Thailand ke Indonesia. Usaha namanya juga, ya? Boleh. Awas kalau nggak kita pajakin aja dia," seloroh Purbaya saat menghadiri GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Selasa (4/8/2026).

        Sebelum melontarkan candaan tersebut, Purbaya lebih dulu menegaskan komitmen pemerintah untuk memberikan dukungan penuh kepada Toyota apabila perusahaan itu bersedia memperluas investasinya di Indonesia.

        "Kita akan dukung Toyota juga, tapi bawa manufaktur utamamu dari Thailand ke Indonesia. I will give you every incentive that you want. Tapi dia nggak akan ngelakuin itu, sudah puluhan tahun nggak mau dia. Namanya juga usaha ya," ujar Purbaya.

        Ia bahkan kembali menegaskan bahwa pemerintah siap memberikan insentif lebih besar apabila Toyota berubah pikiran di masa mendatang.

        "Tapi ke depan kalau Anda mau lagi saya akan kasih insentif banyak," katanya.

        Dalam kesempatan yang sama, Purbaya juga membagikan pengalaman saat pemerintah menarik investasi Hyundai ketika dirinya masih bertugas di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.

        Baca Juga: Purbaya Jamin Guyuran Dana Rp400 Triliun ke Bank Himbara Tetap Jalan Hingga Akhir Tahun

        Ia mengungkapkan pemerintah kala itu memberikan kemudahan penuh agar pembangunan pabrik Hyundai di Indonesia dapat berjalan cepat. Berbagai proses perizinan hingga fasilitas fiskal disebut langsung difasilitasi pemerintah.

        "Saya bilang, saya dukung semua. Jadi sejak dia datang, sampai groundbreaking, cuma butuh empat bulan, gratis lagi. Jadi semuanya perizinan semua diurus di kantor kami. Hyundai hanya datang ke tempat kita," ungkapnya.

        Menurut Purbaya, pemerintah bahkan memanggil langsung kementerian maupun lembaga terkait agar seluruh proses investasi Hyundai bisa selesai dalam waktu singkat.

        "Kalau perlu izin apa, kita panggil BKPM-nya ke tempat kita. Terus kalau izin impor barang, saya panggil Kementerian Perdagangannya ke tempat saya. Izin industri, saya panggil Kementerian terkait ke tempat saya," jelasnya.

        Purbaya menilai pendekatan serupa siap diterapkan untuk menarik investasi baru, termasuk dari Toyota. Ia juga mengakui iklim investasi Indonesia pada masa lalu belum sepenuhnya kompetitif, tetapi pemerintah terus melakukan berbagai perbaikan.

        Di sisi lain, ia menegaskan industri otomotif memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional karena mampu menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja dengan kapasitas produksi mencapai 2,2 juta kendaraan per tahun.

        Selain itu, industri otomotif juga memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor lain seperti baja, elektronik, bahan kimia, logistik, hingga jasa keuangan.

        "Jadi, kalau Anda bisa bawa tadi industri-industri supporting Anda ke sini, saya akan kasih insentif cukup atau lebih," pungkas Purbaya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: