Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Harga mobil listrik di Indonesia kini semakin kompetitif. Beragam model baru hadir dengan banderol yang lebih terjangkau dibanding beberapa tahun lalu. Namun, penurunan harga ternyata bukan lagi faktor utama yang menghambat masyarakat beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV).
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai tantangan terbesar saat ini justru berada pada kesiapan ekosistem pendukung, mulai dari infrastruktur pengisian daya, akses pembiayaan, hingga kepastian nilai jual kembali kendaraan.
Hal tersebut disampaikan Josua dalam pemaparan di acara The Right Fit for Indonesia pada Dialog Otomotif Nasional yang digelar Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
"Kendala berikutnya bukan harga, melainkan infrastruktur, pembiayaan, dan nilai jual kembali," ujarnya di Tangerang, Rabu (5/8/2026).
Menurut Josua, salah satu tantangan terbesar masih datang dari infrastruktur pengisian daya. Hingga pertengahan 2026, jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) baru mencapai sekitar 52 persen dari target yang ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
Kondisi tersebut membuat penggunaan mobil listrik masih lebih nyaman di wilayah yang memiliki jaringan SPKLU memadai, terutama di Pulau Jawa. Sebaliknya, konsumen di luar kota besar masih cenderung memilih kendaraan hybrid atau plug-in hybrid karena tidak bergantung sepenuhnya pada fasilitas pengisian baterai.
Selain infrastruktur, pembiayaan juga dinilai menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Kajian tersebut mencatat pertumbuhan piutang perusahaan pembiayaan untuk kendaraan bermotor hanya mencapai 1,88 persen secara tahunan hingga Juni 2026. Angka itu jauh tertinggal dibandingkan pertumbuhan layanan buy now pay later (BNPL), pinjaman daring, maupun pergadaian.
Temuan tersebut menunjukkan masyarakat sebenarnya masih membutuhkan pembiayaan. Namun, pertumbuhan kredit kendaraan bermotor belum mampu mengikuti peningkatan permintaan di sektor pembiayaan lainnya.
Persoalan lain yang mulai menjadi perhatian adalah nilai jual kembali mobil listrik. Menurut Josua, faktor ini justru menjadi salah satu komponen terbesar dalam biaya kepemilikan kendaraan, tetapi belum banyak disentuh dalam kebijakan pemerintah.
Padahal, seiring bertambahnya populasi mobil listrik, pasar kendaraan bekas diperkirakan akan semakin berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Kepastian mengenai nilai residu kendaraan dinilai penting agar konsumen lebih percaya diri saat membeli mobil listrik baru.
Baca Juga: Purbaya Pastikan Insentif Hybrid Belum Dibahas, Fokus Pemerintah Masih Mobil Listrik BEV
Baca Juga: Purbaya Tagih Janji Hyundai Soal Investasi Mobil Listrik di Indonesia, Singgung Produksi EV
Meski demikian, kajian tersebut menunjukkan bahwa dari sisi biaya kepemilikan, mobil listrik mulai menawarkan daya saing yang kuat. Dengan harga kendaraan yang semakin terjangkau, biaya energi lebih rendah, serta kebutuhan perawatan yang lebih sedikit, total biaya kepemilikan (total cost of ownership/TCO) BEV kini dapat lebih rendah dibanding mobil bermesin konvensional di sejumlah segmen.
Josua menilai fokus kebijakan pemerintah ke depan tidak lagi semata-mata mendorong harga mobil listrik menjadi lebih murah. Yang lebih mendesak adalah mempercepat pembangunan infrastruktur pengisian daya, memperkuat skema pembiayaan, serta menciptakan ekosistem yang mampu menjaga nilai jual kembali kendaraan listrik agar adopsinya bisa tumbuh lebih berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra