Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Industri Manufaktur Tumbuh 5,32 Persen pada Kuartal II-2026, Lampaui Laju Ekonomi Nasional

        Industri Manufaktur Tumbuh 5,32 Persen pada Kuartal II-2026, Lampaui Laju Ekonomi Nasional Kredit Foto: Mochamad Ali Topan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri pengolahan nonmigas (IPNM) mencatat pertumbuhan 5,32 persen pada triwulan II-2026, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year).

        Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan porsi 18,50 persen. Manufaktur juga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

        Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian tersebut menunjukkan sektor manufaktur masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

        "Di Kementerian Perindustrian, arahan Presiden kami terjemahkan melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) yang berfokus pada penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja. Alhamdulillah, hasilnya mulai terlihat dengan pertumbuhan IPNM yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Agus, dikutip Kamis (6/8/2026).

        Selain mencatat pertumbuhan, aktivitas dunia usaha juga masih berada dalam fase ekspansi. Hal itu tercermin dari Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) yang berada di level 52,31.

        Kondisi tersebut sejalan dengan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di level 50,2 pada Juli 2026, serta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 53,10. Kedua indikator itu menunjukkan aktivitas industri masih terus bertumbuh.

        Baca Juga: Industri Mesin hingga Makanan Jadi Penopang Ekspansi Manufaktur pada kuartal II 2026

        "Konsistensi indikator-indikator tersebut memberikan sinyal bahwa dunia industri nasional tetap optimistis terhadap prospek usahanya. Artinya, aktivitas produksi, investasi, maupun permintaan terhadap produk manufaktur masih terus bergerak positif," kata Agus.

        Dari sisi subsektor, industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen didorong permintaan dari pasar domestik maupun ekspor. Sementara itu, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,04 persen, didukung meningkatnya permintaan global terhadap komponen elektronik, baterai, serta berbagai peralatan listrik.

        Adapun industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99 persen seiring meningkatnya permintaan bahan kimia dan produk turunannya di pasar domestik.

        Impor Masih Jadi Tantangan

        Di tengah kinerja tersebut, Kementerian Perindustrian menilai konsumsi masyarakat masih terjaga. Salah satu indikatornya adalah impor barang konsumsi yang tumbuh 27,15 persen secara tahunan.

        Menurut Agus, kenaikan impor mencerminkan permintaan domestik yang masih kuat. Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan kebutuhan bahan baku maupun komponen tertentu masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi industri dalam negeri.

        "Pertumbuhan konsumsi masyarakat merupakan sinyal positif bagi dunia industri karena menunjukkan permintaan domestik yang tetap kuat. Namun, kita juga harus menjadikan kenaikan impor barang konsumsi sebagai momentum untuk mempercepat penguatan struktur industri nasional agar semakin banyak kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi oleh produk dan bahan baku dari dalam negeri," ujarnya.

        Ia menambahkan, penguatan industri penyedia bahan baku masih diperlukan agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi sekaligus memperdalam struktur industri nasional.

        Baca Juga: Manufaktur RI Keluar dari Zona Kontraksi, PMI Naik ke Level 50,2

        Di sisi lain, Agus mengakui komponen net ekspor masih memberikan andil negatif sebesar 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2026. Karena itu, pemerintah akan terus mendorong peningkatan produktivitas industri, hilirisasi, diversifikasi produk bernilai tambah, serta perluasan pasar ekspor untuk memperkuat daya saing manufaktur.

        Data Kementerian Perindustrian juga menunjukkan sektor industri pengolahan masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Hingga Mei 2026, sektor ini menyerap 13,53 persen dari total 148,19 juta penduduk yang bekerja.

        "Selain menghasilkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing nasional, sektor ini juga memberikan kesempatan kerja bagi jutaan masyarakat Indonesia," kata Agus.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: