Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Daya Beli Tak Merata, 158 UMKM Jabar Didorong Naik Kelas dan Perluas Pasar

Daya Beli Tak Merata, 158 UMKM Jabar Didorong Naik Kelas dan Perluas Pasar Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Warta Ekonomi, Bandung -

Daya beli masyarakat yang belum merata menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Barat.

Di tengah perubahan perilaku konsumen, pelaku usaha dituntut tidak hanya mempertahankan penjualan, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis agar mampu meningkatkan skala usaha.

Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Coaching Clinic MSME 2026 Batch 16 yang melibatkan 158 UMKM dari berbagai daerah di Jawa Barat. Program pendampingan yang digelar SBM ITB bersama YGKT48 dan Akseleraksi tersebut berlangsung selama lima minggu dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta.

Director of The Greater Hub SBM ITB Dina Dellyana mengatakan tantangan terbesar yang ditemukan dalam pendampingan UMKM adalah kemampuan melakukan scaling up. Sebagian pelaku usaha masih mengalami stagnasi karena pengembangan produksi, pemasaran, dan aspek bisnis lainnya belum berjalan secara seimbang.

"Jadi mereka susah untuk scaling up. Kadang-kadang ternyata mereka mencari marketing, padahal fokus kepada produksi banyak juga belum bisa," kata Dina, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan UMKM tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan memperkuat pemasaran.

Kapasitas produksi, kemasan, model bisnis, hingga kesiapan operasional perlu berkembang secara beriringan agar peningkatan permintaan tidak justru menjadi kendala baru bagi pelaku usaha. Tantangan tersebut semakin kompleks karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya merata.

Adapun, Professor of Entrepreneurship and Head of Entrepreneurship and Technology Management (ETM) Research Group SBM ITB Wawan Dhewanto mengatakan pertumbuhan ekonomi belum otomatis membuat seluruh kelompok masyarakat memiliki kemampuan belanja yang sama.

"Walaupun ekonomi tumbuh, tapi belum merata. Sehingga sebagian daya belinya naik, tapi lebih banyak yang daya belinya turun," ujar Wawan.

Menurut Wawan, kondisi tersebut membuat konsumen semakin selektif dalam menentukan produk yang dibeli. UMKM karena itu perlu memiliki proposisi nilai yang jelas agar produknya mampu bersaing, baik dari sisi kualitas, tampilan, maupun strategi penjualan.

Perubahan perilaku konsumen juga membuat pelaku UMKM perlu memperluas kanal penjualan. Menurut Wawan, kombinasi penjualan secara offline dan online perlu disesuaikan dengan karakter konsumen yang dibidik.

"Kalau pembelinya Gen Z, Gen Alpha, Gen X, banyak yang lebih suka online. Tapi kalau jenis produknya masih ke generasi X atau yang lebih tua, harus tetap ada offline-nya," katanya.

Strategi omnichannel dengan demikian tidak sekadar menjadi pilihan teknologi, tetapi bagian dari upaya UMKM menjaga akses terhadap konsumen di tengah perubahan pola belanja.

Selain memperkuat pasar domestik, UMKM yang telah memiliki fondasi bisnis lebih matang juga mulai diarahkan untuk melihat peluang ekspor. Namun, pendampingan tidak diarahkan untuk menjadikan ekspor sebagai target instan bagi seluruh peserta.

Dina kembali mengatakan tingkat kesiapan peserta berbeda-beda. Ada pelaku usaha yang masih membenahi aspek dasar bisnis, sementara sebagian lainnya sudah memiliki bisnis yang relatif matang dan membutuhkan strategi untuk memperluas pasar.

"Enggak mungkin lima minggu tiba-tiba orang bisa ekspor. Memang mereka masuknya juga sudah bagus dan bisnisnya cuma mau mengembangkan ke arah ekspor," ujarnya.

Salah satu peserta yang disebut telah menjalankan aktivitas ekspor adalah Temu ID, yang telah menjangkau pasar Timur Tengah dan memperoleh dukungan investor. Bagi peserta dengan tingkat kematangan bisnis seperti itu, pendampingan lebih diarahkan pada pengembangan pasar dan strategi ekspansi.

PendeKatan berbeda juga diterapkan dalam Coaching Clinic MSME Batch 16. Peserta mendapatkan pendampingan dari dua coach, dengan satu coach berfokus pada kebutuhan teknis seperti pemasaran dan kemasan, sedangkan coach lainnya melihat persoalan dari perspektif bisnis secara lebih luas.

"Program juga dibuat lebih fleksibel untuk menjangkau peserta dari berbagai daerah. Selain pertemuan tatap muka, peserta dapat mengikuti pendampingan secara daring untuk mengurangi kendala jarak dan biaya perjalanan,"ungkapynya

Dina menyebutkan Coaching Clinic UMKM telah berjalan selama delapan tahun. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan pelatihan, tetapi juga membantu pelaku usaha mengidentifikasi persoalan bisnis dan menetapkan target yang dapat ditindaklanjuti.

"Selama lima minggu, peserta diminta menentukan satu tujuan yang ingin dicapai, mendiskusikan persoalan bisnis, serta berkomunikasi secara rutin dengan mentor. Sesi coaching mingguan berlangsung minimal 30 menit,"ujarnya.

Baca Juga: Defisit Rp3,4 Triliun, Jabar Pertimbangkan Pinjaman ke PT SMI

Baca Juga: Kas Jabar Terancam Defisit, Dedi Mulyadi Ogah Buru-buru Pinjam Rp3,4 T: Nanti Warga Rugi Bayar Bunga

Wawan kembali menambahkasalah satu kerangka yang diperkenalkan adalah metode GROW, yakni Goals, Reality, Options, dan Will. Kerangka tersebut membantu peserta memetakan kondisi bisnis saat ini, menentukan tujuan, mengevaluasi berbagai pilihan, dan menetapkan tindakan yang akan dilakukan.

"Pelatihan dirancang untuk fokus pada masalah bisnis praktis, bukan sekadar menyediakan ruang untuk berbagi frustrasi," kata Wawan.

Melihat kondisi pasar yang semakin selektif, UMKM membutuhkan kemampuan untuk membaca perubahan permintaan sekaligus memastikan kapasitas bisnis mampu mengikuti peluang yang muncul. Karena itu, peningkatan skala usaha tidak cukup hanya dengan mengejar penjualan, tetapi harus diikuti penguatan produksi, pemasaran, dan model bisnis.

"Bagi 158 UMKM peserta Batch 16, pendampingan tersebut menjadi ruang untuk menguji strategi bisnis berdasarkan kondisi usaha masing-masing, mulai dari memperkuat pasar domestik hingga mempersiapkan ekspansi ke pasar yang lebih luas,"pungkasnya

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Annisa Nurfitri