Beda dari Shaolin Soccer, Stephen Chow Ceritakan Film Garapan Terbarunya Kung Fu Soccer
Kredit Foto: Instagram/stephenchow
Dua puluh lima tahun setelah Shaolin Soccer mencuri perhatian penonton dengan perpaduan sepak bola, kung fu, dan komedi khas Stephen Chow, sang sutradara kini kembali membawa formula serupa lewat film terbarunya, Kung Fu Soccer. Namun, jangan berharap film anyar ini sekadar mengulang kesuksesan film klasik tersebut.
Stephen Chow justru melihat kedua karya itu sebagai gambaran perjalanan hidup dan perubahan cara pandangnya selama seperempat abad. Meski sama-sama mengangkat kung fu dan sepak bola, persoalan yang dibawa Kung Fu Soccer disebut jauh lebih personal dan relevan dengan isu yang berbeda.
Saat tampil dalam program siaran langsung televisi Tiongkok yang dipandu Dong Yuhui, Stephen Chow menjelaskan bahwa Shaolin Soccer yang dirilis pada 2001 lahir ketika Hong Kong tengah menghadapi krisis ekonomi. Situasi tersebut kemudian ikut membentuk cerita yang berfokus pada perjuangan masyarakat kelas bawah.
Film tersebut menggambarkan sekelompok pria dari lapisan masyarakat paling rendah yang berusaha melawan ketidakadilan sekaligus membuktikan bahwa mereka memiliki harga diri.
Baca Juga: Stephen Chow Ungkap Alasan Tak Lagi Minat Main Film: Saya Sebenarnya...
"Cerita Shaolin Soccer berfokus pada sekumpulan pria dari lapisan paling dasar yang bertaruh nasib dan melawan ketidakadilan kapital demi membuktikan harga diri," katanya dikutip dari Sina.com.
Dengan latar tersebut, konflik dalam Shaolin Soccer banyak berkutat pada perjuangan untuk keluar dari keterpurukan dan menghadapi ketidakadilan yang dirasakan kelompok masyarakat bawah.
Berbeda dari film tersebut, Kung Fu Soccer hadir dengan pendekatan yang lebih santai. Chow menggeser fokus cerita dari perjuangan ekonomi menjadi persoalan solidaritas perempuan serta berbagai tekanan yang muncul dalam kehidupan modern.
Konflik yang diangkat juga tidak lagi semata-mata mengenai bagaimana seseorang bertahan hidup di tengah kemiskinan. Film ini justru menyentuh persoalan stereotip gender, diskriminasi usia, hingga tekanan mental yang dialami seseorang di lingkungan kerja.
"Konflik yang diangkat tidak lagi seputar bertahan hidup di tengah kemiskinan, melainkan perlawanan terhadap stereotip gender, diskriminasi usia, serta tekanan mental di lingkungan kerja," ungkapnya.
Baca Juga: Resmi! Maroon 5 Bakal Konser di Jakarta Tahun Depan, Berapa Harga Tiketnya?
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana cara pandang Chow terhadap kehidupan ikut berkembang. Jika Shaolin Soccer begitu kuat dengan ambisi untuk menang dan membuktikan diri, Kung Fu Soccer lebih menyoroti proses menerima keadaan dan berdamai dengan diri sendiri.
Perbedaan antara kedua film juga terlihat dari posisi Stephen Chow di balik maupun di depan kamera. Dalam Shaolin Soccer, Chow bukan hanya menjadi sutradara, tetapi juga tampil sebagai pemeran utama. Ia beradu akting dengan mendiang Ng Man-tat dalam formula komedi Mo Lei Tau yang kemudian menjadi salah satu ciri khas film tersebut.
Namun, untuk Kung Fu Soccer, Chow memilih sepenuhnya berada di balik layar. Sementara peran utama dipercayakan kepada Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang.
Film terbaru ini juga menghadirkan pendekatan berbeda karena tidak menempatkan satu sosok sebagai antagonis yang jelas. Konflik dibangun melalui persoalan dan tekanan yang dihadapi para karakter. Adapun Kung Fu Soccer dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 12 Agustus 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: