Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Pekan Ini Dibayangi Sikap Wait and See, Investor Menanti Sinyal The Fed

        IHSG Pekan Ini Dibayangi Sikap Wait and See, Investor Menanti Sinyal The Fed Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan perdagangan 10–14 Agustus 2026 diperkirakan masih akan diwarnai sikap hati-hati investor. Pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dapat menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

        Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan kebijakan suku bunga bank sentral global masih menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah pasar saham pada pekan ini.

        Menurut David, The Fed dan European Central Bank (ECB) masih dihadapkan pada tantangan untuk menjaga inflasi tetap terkendali tanpa semakin menekan pertumbuhan ekonomi.

        "Bank sentral utama, seperti US Federal Reserve dan European Central Bank (ECB) terus menyeimbangkan antara upaya meredam ketahanan inflasi yang melandai secara bertahap dan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi," ujar David dalam keterangan resminya, Senin (10/8/2026).

        Dia mengaku, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer juga masih membayangi pasar. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh pasar tenaga kerja yang relatif ketat serta inflasi sektor jasa yang belum sepenuhnya mereda.

        David menilai perubahan ekspektasi terhadap suku bunga global berpotensi memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi, terutama US Treasury. Jika yield obligasi AS meningkat, selisih imbal hasil dengan instrumen di negara berkembang dapat semakin menyempit.

        Kondisi tersebut berpotensi mendorong sebagian investor global mengurangi eksposur di pasar berkembang dan mengalihkan dana ke aset di negara maju yang dianggap memiliki risiko lebih rendah.

        Ekonomi Domestik Jadi Penopang

        Di tengah tantangan eksternal, kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,2% secara tahunan.

        David menilai capaian tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian global. Konsumsi rumah tangga yang kuat, inflasi yang terkendali, serta peningkatan investasi menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi.

        "Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menggerakkan sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan paling atraktif di kawasan emerging markets," jelasnya.

        Data Ekonomi AS Jadi Penentu Arah IHSG

        Memasuki pekan ini, David memperkirakan pasar saham akan cenderung bergerak dalam pola wait and see. Investor akan menunggu sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi keputusan The Fed.

        Data yang menjadi perhatian utama meliputi Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), dan penjualan ritel (retail sales).

        Rangkaian data tersebut akan menjadi petunjuk bagi pasar untuk menilai apakah tekanan inflasi AS mulai cukup mereda sehingga membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter. Sebaliknya, apabila inflasi masih persisten, ekspektasi suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama.

        Kondisi tersebut pada akhirnya akan menjadi salah satu faktor yang menentukan arah pergerakan IHSG sepanjang pekan ini.

        Di tengah potensi volatilitas pasar, IPOT merekomendasikan tiga saham untuk strategi perdagangan jangka pendek, yakni WIFI, IMPC, dan BRMS.

        1. WIFI

        PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) direkomendasikan buy pada level Rp2.020 per saham, dengan target harga Rp2.160 per saham. Potensi kenaikannya mencapai 6,93%, sementara stop loss ditetapkan di Rp1.955 per saham.

        Secara teknikal, WIFI dinilai berpeluang menembus pola flag dan masih mampu bertahan di atas MA20 dalam jangka pendek.

        Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Cermati Peluang di BMRI, BUMI, hingga BRPT

        Baca Juga: Emiten Happy Hapsoro UANG Makin Boncos, Rugi Bersih Melonjak 52%

        Baca Juga: Emiten Hary Tanoe dan Lo Kheng Hong Tertekan, Laba BMTR Turun 41,57%

        2. IMPC

        PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) juga masuk daftar pilihan dengan harga entry Rp1.595 per saham. Target harga ditetapkan di Rp1.700 per saham atau berpotensi naik 6,58%, dengan stop loss di Rp1.550 per saham.

        Saham IMPC dinilai berpeluang membentuk golden cross terhadap MA60. Selain itu, indikator AI Trade Flow IPOT menunjukkan adanya akumulasi selama lima hari perdagangan terakhir.

        3. BRMS

        PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi saham dengan potensi kenaikan terbesar dalam daftar tersebut. Dengan entry di Rp615 per saham, target harga dipatok pada Rp680 per saham atau sekitar 10,57% lebih tinggi. Sementara itu, stop loss berada di Rp585 per saham.

        BRMS dinilai masih mampu bergerak di atas MA5. Pergerakan harga juga menunjukkan indikasi breakout, sementara AI Trade Flow IPOT mencatat adanya akumulasi dalam lima hari terakhir.

        Berdasarkan perhitungan risk to reward ratio, WIFI memiliki rasio sekitar 1:2,2, IMPC sebesar 1:2,3, dan BRMS sekitar 1:2,2.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: