Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        30 IKM Logam Karawang-Bekasi Didorong Masuk Rantai Pasok Industri Besar

        30 IKM Logam Karawang-Bekasi Didorong Masuk Rantai Pasok Industri Besar Kredit Foto: Tatalogam Group
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri kecil dan menengah (IKM) logam di Kabupaten Karawang dan Bekasi mulai didorong untuk mengambil porsi lebih besar dalam rantai pasok manufaktur. Sebanyak 30 IKM mengikuti fasilitasi kemitraan yang mempertemukan mereka secara langsung dengan sejumlah calon mitra dari industri besar.

        Langkah tersebut membuka peluang bagi pelaku IKM untuk tidak hanya menjadi pemasok komponen, tetapi juga masuk ke berbagai kebutuhan industri seperti permesinan, alat berat, alat kesehatan, hingga jasa perawatan dan perbaikan mesin.

        Kementerian Perindustrian melihat peluang tersebut cukup besar, terutama karena Jawa Barat merupakan salah satu basis manufaktur utama di Indonesia. Keberadaan perusahaan berskala nasional hingga multinasional di wilayah tersebut menciptakan kebutuhan terhadap bahan baku, komponen, serta jasa pendukung industri.

        Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan keterlibatan IKM dalam rantai pasok industri besar dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pelaku usaha.

        "Ketika IKM mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri besar, baik BUMN maupun swasta, sekaligus terlibat dalam program vendor development, peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kompetensi akan semakin besar," ujar Agus dikutip Senin (10/8/2026).

        Menurutnya, kemitraan tersebut juga dapat membantu memperkuat rantai pasok nasional dengan meningkatkan penggunaan produk dari pemasok dalam negeri.

        Industri logam sendiri memiliki posisi penting karena produknya digunakan oleh berbagai sektor manufaktur. Mulai dari otomotif, alat berat, konstruksi, alat kesehatan hingga permesinan membutuhkan komponen dan produk berbasis logam.

        Namun, untuk bisa masuk ke rantai pasok industri besar, IKM harus mampu memenuhi standar kualitas, spesifikasi produk, kapasitas produksi, serta kebutuhan teknis yang ditetapkan calon mitra.

        Hal inilah yang menjadi salah satu fokus fasilitasi kemitraan yang digelar Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) di Jawa Barat pada 29-30 Juli 2026.

        Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan langsung ke sejumlah IKM logam di Karawang dan Bekasi. Calon mitra dari industri besar dapat melihat proses produksi, kapasitas, kualitas produk, hingga kesiapan masing-masing IKM sebelum masuk ke tahap penjajakan kerja sama.

        Beberapa perusahaan yang ikut dalam kunjungan tersebut antara lain PT Perkebunan Nusantara, PT Yogya Presisi Teknikatama Industri, PT Hitachi Construction Machinery Indonesia, dan PT Sarandi Karya Nugraha.

        Setelah kunjungan, kegiatan dilanjutkan dengan temu bisnis yang mempertemukan IKM dengan calon mitra industri besar. Forum tersebut digunakan untuk membahas kebutuhan industri secara lebih spesifik, termasuk spesifikasi produk, standar kualitas, dan peluang kerja sama.

        Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita mengatakan pertemuan langsung penting agar IKM dapat memahami kebutuhan calon pengguna sekaligus mengukur kesiapan mereka untuk masuk ke rantai pasok.

        "Melalui dialog dan penjajakan peluang bisnis secara langsung, IKM dapat memahami kebutuhan industri, meningkatkan kesiapan usahanya, serta membuka peluang untuk menjadi pemasok bagi industri besar," kata Reni.

        Selain sebagai pemasok komponen, IKM logam juga dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan layanan pendukung manufaktur. Kebutuhan terhadap jasa perawatan, perbaikan, dan rekayasa mesin menjadi salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan pelaku IKM untuk memperluas pasar.

        Plt. Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Kemenperin Budi Setiawan mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi IKM untuk mengetahui standar yang diterapkan industri besar.

        Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri

        Baca Juga: Kemenperin Siapkan Insentif bagi Kawasan Industri yang Bertransformasi Hijau

        "Kegiatan ini tidak hanya mempertemukan IKM dengan industri besar, tetapi juga menjadi sarana bagi IKM untuk memahami kebutuhan pasar, standar yang diterapkan industri, serta membangun jejaring bisnis yang berpotensi menghasilkan kerja sama jangka panjang," ujar Budi.

        Sebanyak 30 IKM yang mengikuti program tersebut memiliki kemampuan yang beragam, mulai dari fabrikasi logam, machining, pembuatan komponen, hingga penyediaan jasa pendukung industri.

        Kemenperin berharap penjajakan tersebut tidak berhenti pada pertemuan bisnis, tetapi berlanjut menjadi kontrak atau kerja sama komersial. Jika terealisasi, kemitraan tersebut dapat membuka pasar baru bagi IKM sekaligus meningkatkan keterlibatan pemasok lokal dalam rantai pasok manufaktur.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: