Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Tren Hospitality Beralih ke Telur Bebas Kandang, Apakah Plataran Group Melakukan Langkah Serupa?

        Tren Hospitality Beralih ke Telur Bebas Kandang, Apakah Plataran Group Melakukan Langkah Serupa? Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sejumlah aktivis dan konsumen menggelar aksi damai di depan Plataran Ubud, Bali, untuk mendesak Plataran untuk berkomitmen untuk menggunakan telur bebas kandang (cage-free). Aksi tersebut melibatkan 10 aktivis dengan 10 sepeda motor yang membawa petisi kepada Plataran. Selain aksi tersebut, pesan yang sama akan terus berkeliling Bali selama sebulan di sekitar area properti Plataran sebagai bagian dari upaya mendorong perhatian terhadap kesejahteraan ayam petelur dalam rantai pasok industri hospitality.

        Plataran merupakan perusahaan perhotelan berskala besar yang mengelola hotel, resor, tempat acara, restoran, properti, kapal pesiar pribadi, hingga operator taman nasional yang tersebar di 81 lokasi di Indonesia dan Jepang. Sebagai grup usaha besar, Plataran dinilai sudah sepantasnya memperhatikan aspek kesejahteraan hewan dalam rantai pasokannya. Sebagai brand yang lekat dengan citra ramah lingkungan, aspek kesejahteraan hewan dinilai sudah sepatutnya menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan.

        Hingga kini, industri telur di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan sistem kandang sempit. Dalam metode peternakan konvensional ini, ayam petelur dikurung selama siklus produksi mereka (kurang lebih 63 minggu) dalam kandang sempit yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari selembar kertas A4. Pengurungan ekstrem tersebut membuat ayam-ayam ini mengalami penderitaan dan menghambat mereka untuk melakukan berbagai perilaku alaminya, seperti merentangkan sayap sepenuhnya, bersarang, mandi debu, bertengger, dan bersosialisasi. 

        Laporan Badan Keamanan Pangan Eropa tahun 2019 (EFSA) menyimpulkan bahwa sistem kandang sempit juga memiliki tingkat prevalensi Salmonella yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem kandang cage-free. Sementara itu, penelitian oleh Universitas Gadjah Mada Indonesia menemukan adanya Salmonella yang resisten terhadap antibiotik pada telur supermarket yang berasal dari sistem kandang. Temuan strain yang kebal terhadap berbagai jenis obat (multidrug-resistant) ini menegaskan pentingnya penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab serta penerapan regulasi keamanan pangan yang kuat di seluruh industri.

        "Kami sudah menghubungi Plataran sejak 2024. Oleh karena itu, kami berharap audiensi yang telah kami lakukan bersama para pemangku kepentingan Plataran di kantor pusat mereka, disertai berbagai dorongan di Jakarta, dapat menghasilkan keputusan positif. Namun, hingga kini belum ada kemajuan terkait kebijakan telur bebas kandang mereka," ujar Elfha Shavira, Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals.

        “Kami yakin Plataran bisa melakukan langkah konkret terkait penggunaan telur bebas kandang (cage-free). Namun, sejak 2024 kami membuka komunikasi dan banyak dialog, kami belum melihat kejelasan dan langkah nyata untuk memastikan kesejahteraan ayam menjadi bagian dari standar rantai pasoknya,” ujar Elfha Shavira, Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals.

        “Sebagai grup bisnis di Indonesia dan Jepang yang melayani pasar internasional, Plataran sudah sepatutnya memperhatikan aspek etis ini. Tren cage-free di pasar global sudah tak terelakkan, dan 110 perusahaan di Indonesia pun telah berkomitmen. Plataran mengusung citra ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang seharusnya juga mencakup kesejahteraan hewan serta kesehatan masyarakat. Sudah saatnya Plataran menyelaraskan langkah dengan merilis komitmen bebas kandang,” lanjut Elfha. 

        Sebuah studi oleh Pusat Kesejahteraan dan Etika Hewan, Sekolah Ilmu Kedokteran Hewan, Universitas Queensland, menemukan bahwa ketika kesejahteraan hewan menjadi prioritas, masyarakat terdorong untuk saling berlomba secara positif dalam meningkatkan kesehatan dan perawatan hewan mereka. Selain itu, sistem peternakan yang diterapkan menempati urutan kedua setelah harga dalam memengaruhi preferensi konsumen terhadap telur.

        Melalui aksi damai ini, para aktivis berharap Plataran segera mengambil langkah konkret untuk mengedepankan kesejahteraan hewan, sekaligus mewujudkan praktik bisnis yang lebih etis, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Redaksi

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: