Kredit Foto: Khairunnisak Lubis
Perekonomian Sumatera Utara pada Triwulan II-2026 tumbuh 5,06 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,98 persen. Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Sumut sepanjang 2026 tumbuh pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Ameriza M. Moesa, mengatakan capaian tersebut tergolong baik di tengah perlambatan ekonomi global akibat konflik geopolitik dan persaingan dagang. Prospek pertumbuhan ekonomi dunia bahkan turun dari 3,5 persen menjadi 3 persen. “Di Sumatera, daerah yang pertumbuhannya meningkat hanya Aceh, Sumatera Utara, dan Bengkulu, sedangkan yang lainnya melambat,” katanya, Jumat (14/8/2026).
Menurut Ameriza, penguatan ekonomi Sumut terutama ditopang ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang meningkat dari 2,67 persen menjadi 7,39 persen. Pelemahan rupiah membuat komoditas lebih kompetitif sekaligus mendorong akumulasi stok oleh pembeli global. Kondisi tersebut turut mendorong industri pengolahan dari 1,53 persen menjadi 1,96 persen dan sektor pertanian dari 0,41 persen menjadi 1,61 persen.
Pertumbuhan juga didukung sektor perdagangan yang mencapai 10,06 persen, investasi yang meningkat dari Rp301 miliar menjadi Rp545 miliar, serta belanja Pemerintah Pusat melalui Proyek Strategis Nasional, pemulihan pascabencana, Sekolah Rakyat, Koperasi Desa, dan pembangunan Tol Trans-Sumatera. Sektor konstruksi turut terakselerasi melalui pembangunan kawasan industri dan KEK, sementara Medan dinilai strategis dikembangkan sebagai pusat MICE karena dekat dengan Malaysia dan Singapura.
“Prospek ke depan, kami meyakini sepanjang tahun 2026 ini perekonomian Sumatera Utara masih mampu tumbuh antara 4,9 persen sampai 5,7 persen,” tegas Ameriza. Ia menambahkan, inflasi Sumut diperkirakan kembali ke sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen setelah tahun sebelumnya mencapai 4,66 persen.
Dari sektor jasa keuangan, Kepala Bidang Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Sumut, Yovvi Sukandar, menyebut kondisi keuangan daerah pada Semester I-2026 tetap terkendali. Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan berada di level 62,6 persen dan Non-Performing Loan (NPL) Gross sebesar 1,9 persen. Pertumbuhan kredit telah mencapai 7,55 persen dan dibutuhkan peningkatan hingga 9,8 persen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi minimal 4,9 persen.
Hingga Semester I-2026, restrukturisasi kredit terdampak bencana hidrometeorologi November 2025 mencapai Rp1,6 triliun, terdiri dari sektor perbankan Rp1,4 triliun untuk 45.230 debitur UMKM dan sektor pembiayaan bagi 33.329 rekening.
Baca Juga: BI-Pemprov Sumut Perkuat Sinergi Lewat Kreatif Sumut 2026
Baca Juga: PLTA Senilai Rp 21,6 T di Sumut Dikebut, Target Operasi Oktober 2026
"OJK juga menerima 1.878 pengaduan konsumen serta 877 pengaduan ke Satgas PASTI terkait pinjaman dan investasi ilegal. Indonesia Anti-Scam Centre mencatat 22.000 pelapor korban penipuan di Sumut, sementara OJK telah melaksanakan 206 kegiatan edukasi keuangan kepada 130.878 peserta," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II Kanwil DJPb Sumut, Edy Purwanto, mengatakan penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) hingga Triwulan II-2026 tumbuh 14,17 persen, menjadi yang tertinggi sejak 2022. Penyaluran TKD kepada seluruh pemerintah daerah di Sumut hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp25 triliun atau tumbuh 24,77 persen.
"Dana Bagi Hasil meningkat tiga kali lipat menjadi Rp2,4 triliun dan DAU tumbuh 26,48 persen. Pemerintah Pusat juga menyalurkan Bansos PKH dan Sembako Rp1,77 triliun untuk 2,65 juta penerima, KUR Rp8,8 triliun bagi 112.000 debitur, serta pembiayaan UMi dan PNM Mekaar Rp127 miliar untuk 73.000 debitur," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Khairunnisak Lubis
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: