Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jokowi Pintar Membaca Survei, Disebut Pantau Pergerakan Prabowo-Gibran

        Jokowi Pintar Membaca Survei, Disebut Pantau Pergerakan Prabowo-Gibran Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menilai mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemungkinan masih mencermati perkembangan data survei mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

        Pandangan tersebut disampaikan Djayadi dalam program siniar Total Politik yang tayang pada Kamis (13/8/2026). Menurut dia, Jokowi selama ini dikenal memiliki perhatian besar terhadap hasil survei sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam membaca situasi politik.

        Djayadi memperkirakan kebiasaan tersebut tetap dilakukan Jokowi meski kini tidak lagi berada di pemerintahan.

        "Saya yakin dia sudah membaca itu, data-data dari SMRC semuanya, atau survei Indikator yang bocor, atau survei-survei lain yang sempat ia akses," ujar Djayadi.

        Dalam diskusi tersebut, Djayadi membahas penurunan angka kepuasan publik atau approval rating terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.

        Dia menilai perkembangan tersebut menjadi salah satu hal yang penting untuk dicermati, terutama di tengah berbagai persoalan yang dihadapi pemerintah.

        Menurut uraian Djayadi, kondisi ekonomi, perubahan jumlah masyarakat kelas menengah, hingga persoalan implementasi sejumlah program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih turut menjadi bagian dari dinamika yang memengaruhi respons publik.

        Dalam kondisi tersebut, Jokowi dinilai tetap memiliki kepentingan untuk memperhatikan keberlangsungan pemerintahan Prabowo-Gibran. Hal itu berkaitan dengan posisi Gibran sebagai wakil presiden.

        Djayadi menilai Jokowi kemungkinan tidak berposisi sebagai patron bagi pemerintahan Prabowo, tetapi dapat memberikan masukan atau menawarkan alternatif penyelesaian atas persoalan yang dihadapi pemerintah.

        "Saya kira dia ingin pemerintahan Prabowo bersama Gibran itu minimal sampai 2029 selamat. Ada jalur bagi dia untuk memberikan mungkin kalau 'nasihat' terlalu patronizing tapi tips-tips atau jalan keluar yang mungkin bisa dia sampaikan kepada Presiden Prabowo," kata Djayadi.

        Menurut Djayadi, suara para mantan presiden masih berpotensi didengar oleh pemerintahan yang sedang berjalan. Dalam konteks Jokowi, hasil survei yang dia cermati dapat menjadi salah satu dasar untuk memberikan masukan mengenai situasi politik dan tingkat penerimaan publik.

        Selain perkembangan pemerintahan Prabowo-Gibran, Djayadi juga menyoroti data mengenai pengaruh Jokowi terhadap pilihan politik masyarakat.

        Eksperimen survei yang dibahas dalam program tersebut menunjukkan adanya Jokowi Effect terhadap perolehan suara Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pengaruh tersebut disebut dapat meningkatkan suara PSI hingga sekitar 10 persen.

        Baca Juga: Jadi Catatan Prabowo, Megawati Ingatkan Cita-cita Bung Karno Belum Sepenuhnya Terwujud

        Dalam simulasi tersebut, elektabilitas PSI disebut mencapai 4,1 persen.

        Djayadi menilai data tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif terhadap figur Jokowi masih memiliki pengaruh terhadap preferensi politik sebagian masyarakat.

        Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa meski tidak lagi menjabat sebagai presiden, Jokowi masih memiliki modal politik yang dapat diperhitungkan.

        Data tersebut, menurut uraian Djayadi, menjadi salah satu faktor yang dapat digunakan untuk membaca posisi politik Jokowi menjelang dinamika politik menuju Pemilu dan Pilpres 2029.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: