Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        FTSE Russell Depak SILO, Saham Milik Grup Lippo Turun Kasta

        FTSE Russell Depak SILO, Saham Milik Grup Lippo Turun Kasta Kredit Foto: Siloam Hospitals
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        FTSE Russell mengubah klasifikasi sejumlah saham Indonesia dalam tinjauan indeks September 2026 yang sudah diumumkan pada Jumat (21/8/2026). Salah satu yang terdampak adalah PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).

        Dalam perubahan tersebut, SILO yang merupakan emiten rumah sakit milik Grup Lippo turun dari FTSE Small Cap ke Micro Cap. Perubahan ini turut menjadi sorotan karena SILO sebelumnya masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC), yakni saham dengan kepemilikan yang terkonsentrasi pada sejumlah pemegang saham.

        Status HSC tersebut sebelumnya ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 Juli 2026 berdasarkan struktur kepemilikan saham per 30 Juni 2026.

        Berdasarkan data BEI, sekitar 96,70% saham SILO dikuasai oleh sejumlah pemegang saham tertentu. Artinya, hanya sebagian kecil saham SILO yang berada di tangan pemegang saham lainnya.

        Meski demikian, BEI menegaskan penetapan status HSC tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan pasar modal. Status tersebut hanya menggambarkan tingginya konsentrasi kepemilikan saham pada emiten.

        Baca Juga: BSDE Turun Kelas di FTSE Russell, dari Mid Cap ke Micro Cap

        Baca Juga: FTSE Russell Rombak Saham Indonesia, Ini Komposisi Barunya

        Baca Juga: Soal Keputusan FTSE Russell, Ini Respons BEI

        Kinerja SILO Tetap Tumbuh

        Penurunan klasifikasi SILO di FTSE Russell terjadi di tengah kinerja keuangan perseroan yang masih mencatat pertumbuhan pada semester I-2026.

        SILO membukukan laba bersih Rp580,68 miliar, meningkat 27,11% dibandingkan Rp456,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

        Pendapatan usaha perseroan juga tumbuh 11,8% menjadi Rp6,12 triliun.

        Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan layanan medis dengan tingkat kompleksitas tinggi, termasuk penanganan kanker, kardiologi, dan bedah saraf. SILO juga terus memperkuat segmen pasien umum (out-of-pocket) serta pasien dengan asuransi swasta.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: