Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Indra J Piliang Soroti Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla: Jangan Sampai Jadi Proyek Buang Anggaran

        Indra J Piliang Soroti Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla: Jangan Sampai Jadi Proyek Buang Anggaran Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Politikus Indra J Piliang menyoroti rencana pengembangan bahan berbasis tepung singkong yang disebut dapat membantu mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia mempertanyakan dasar ilmiah inovasi tersebut sebelum pemerintah memutuskan untuk memproduksinya dalam skala besar.

        Indra menilai temuan yang masih bersifat kasuistik tidak seharusnya langsung digeneralisasi menjadi metode yang dapat diterapkan secara luas. Menurutnya, diperlukan pengujian laboratorium serta kajian ilmiah yang lebih mendalam untuk memastikan efektivitas bahan tersebut.

        "Tiba-tiba Kapolri menyampaikan cara yang 'cerdas' dalam memadamkan api: tepung. Tidak begitu jelas, apakah tepung terigu, tepung tapioka, atau tepung sagu," kata Indra J Piliang, dikutip Selasa (25/8/2026).

        Ia kemudian menyoroti pentingnya proses penelitian sebelum sebuah inovasi diterapkan dalam skala besar. Menurut Indra, hasil dari satu penarikan sampel dalam kegiatan ilmiah tidak bisa langsung dianggap mewakili kondisi secara umum.

        "Untuk kegiatan seminar atau simposium ilmiah di kalangan dunia akademik, penyampaian satu kesimpulan dari satu penarikan sampel, tidak bisa digeneralisasi. Sifatnya masih kasuistik. Uji laboratorium perlu dilakukan, bukan bersifat case study," ujarnya.

        Kritik tersebut kemudian diarahkan Indra pada rencana produksi bahan tersebut secara besar-besaran. Ia khawatir kebijakan yang belum didukung proses penelitian memadai justru berujung pada penggunaan anggaran yang tidak efektif.

        "Atau memang itu tujuannya? Anggaran penanggulangan bencana, warga republik ini tahu, adalah bancakan yang sangat lezat, hampir bebas audit. Produk yang belum lewati beragam proses dan jenjang akademis - industri - publik saintis - majelis ilmu, secara hipotesis adalah produk coba-coba," kata dia.

        Indra juga mendorong agar klaim mengenai bahan berbasis singkong tersebut diuji oleh kalangan akademisi dan ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu. Ia menyebut bidang biologi, mikrobiologi, kimia, hingga teknik kimia dapat memberikan perspektif untuk menilai inovasi tersebut.

        Menurutnya, pengujian lintas disiplin penting agar pemerintah memiliki dasar yang kuat sebelum menentukan apakah bahan tersebut memang layak digunakan untuk penanganan karhutla. Dengan begitu, kebijakan yang diambil tidak hanya berdasarkan hasil uji terbatas atau pengalaman pada kasus tertentu.

        Selain efektivitas, Indra mempertanyakan kesiapan bahan baku apabila pemerintah benar-benar menjalankan produksi dalam skala besar. Ia menyoroti kebutuhan singkong dalam jumlah besar serta kesiapan industri pengolahan untuk mengubah bahan tersebut menjadi produk yang bisa digunakan dalam operasi pemadaman.

        "Sekarang bayangkan jika perintah presiden dijalankan? Di mana umbi-umbi singkong didapatkan? Singkong kini bukan lagi kelas makanan remah, tetapi menghuni restoran mewah di hotel atau cafe," ujarnya.

        Ia juga mempertanyakan apakah kapasitas pengolahan singkong menjadi tepung sudah tersedia apabila kebutuhan produk tersebut meningkat secara signifikan. Menurutnya, persoalan rantai pasok juga perlu diperhitungkan jika inovasi tersebut benar-benar akan dikembangkan sebagai salah satu metode penanganan karhutla.

        Pernyataan Indra itu merespons pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenai inovasi bahan pemadam berbasis tepung dari ubi atau singkong. Sigit menyebut bahan tersebut dapat digunakan untuk mencegah maupun memadamkan api pada tahap awal.

        Baca Juga: Malaysia Siap Bantu Indonesia Padamkan Karhutla, Tapi Ada Syaratnya

        Inovasi tersebut disampaikan Sigit dalam rapat koordinasi penanganan karhutla Sumatera di VVIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Senin (24/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Sigit menjelaskan bahan berbasis singkong itu sebagai salah satu inovasi yang dapat membantu penanganan kebakaran.

        Presiden Prabowo Subianto kemudian disebut tertarik dengan inovasi tersebut. Ia meminta agar bahan itu diteliti lebih lanjut dan diproduksi dalam skala besar untuk mendukung penanganan karhutla.

        "Intinya dia bisa meredam. Menarik sekali itu. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar," kata Prabowo.

        Prabowo juga meminta agar riset dan pengembangan bahan tersebut segera dilakukan, termasuk pengajuan anggaran yang diperlukan untuk mendukung proses pengembangannya. Kebijakan tersebut membuat isu tepung berbasis singkong tidak lagi sekadar menjadi inovasi yang diperkenalkan dalam penanganan karhutla, tetapi mulai diarahkan untuk dikembangkan lebih luas.

        Di sisi lain, Sigit menyebut konsep tersebut dengan istilah "ubi bombing" sebagai alternatif dari metode water bombing yang selama ini digunakan dalam penanganan karhutla melalui udara. Perdebatan mengenai inovasi tersebut kini bergeser pada pertanyaan mengenai efektivitas, validasi ilmiah, kesiapan produksi, serta kebutuhan anggaran sebelum diterapkan secara lebih luas.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: