Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Malaysia menyatakan kesiapannya membantu Indonesia menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi kembali memburuk seiring penguatan fenomena El Nino. Namun, bantuan tersebut tidak bisa langsung dikirim karena Pemerintah Indonesia harus lebih dulu mengajukan permintaan khusus kepada Malaysia.
Menteri Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Malaysia, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, mengatakan permintaan bantuan dari Indonesia nantinya akan dibawa ke Kabinet Malaysia. Keputusan mengenai bentuk bantuan kemudian akan ditentukan setelah mendapat pertimbangan dari pemerintah Malaysia.
"Jika Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan khusus, masalah tersebut akan dibawa ke Kabinet untuk dipertimbangkan lebih lanjut dan diputuskan," ujar Arthur dalam pernyataannya, Senin (24/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Arthur melakukan percakapan telepon dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat. Kedua pihak membahas kondisi cuaca panas, ancaman El Nino, serta kabut asap lintas batas yang berpotensi memengaruhi kedua negara.
Malaysia menilai kebutuhan kerja sama semakin penting karena El Nino diperkirakan menguat menuju Oktober 2026. Kondisi tersebut bertepatan dengan periode Monsun Barat Daya yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat pencegahan serta penanganan dini karhutla. Langkah tersebut diarahkan agar kebakaran bisa segera dikendalikan sebelum meluas dan menyebabkan kabut asap lintas batas yang lebih parah.
Di sisi lain, kesiapan Malaysia membantu Indonesia tidak berarti Negeri Jiran tersebut sudah mengerahkan bantuan pemadaman ke wilayah Indonesia. Mekanismenya tetap bergantung pada permintaan resmi Pemerintah Indonesia dan keputusan Kabinet Malaysia.
Malaysia juga menyambut baik langkah Indonesia dalam memperkuat penanganan karhutla. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui tambahan personel TNI, pengerahan helikopter untuk water bombing, serta peningkatan operasi modifikasi cuaca.
Selain kemungkinan bantuan pemadaman, kerja sama kedua negara juga mencakup operasi penyemaian awan atau cloud seeding. Indonesia telah memberikan izin kepada badan-badan Malaysia untuk memasuki wilayah udara Indonesia guna melakukan operasi tersebut di kawasan perbatasan.
Badan Nasional Pengurusan Bencana Malaysia (Nadma) bersama Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia) kini menyiapkan jadwal operasional untuk kegiatan tersebut. Pelaksanaannya nantinya akan dikoordinasikan dengan Panglima TNI.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara menghadapi ancaman kabut asap lintas batas. Malaysia sendiri memiliki kepentingan besar untuk menjaga kualitas udara karena sejumlah wilayahnya telah terdampak kabut asap akibat karhutla di Indonesia.
Arthur mengatakan Malaysia akan terus memantau titik panas dan kualitas udara melalui Departemen Lingkungan serta MetMalaysia. Komunikasi dengan otoritas Indonesia juga akan dipertahankan untuk mempercepat respons jika kondisi memburuk.
Kesiapan tersebut menjadi penting karena Malaysia akan menghadapi sejumlah agenda nasional dalam waktu dekat. Hari Nasional Malaysia akan diperingati pada 31 Agustus, sedangkan Hari Malaysia pada 16 September tahun ini akan dipusatkan di Kuching, Sarawak, salah satu wilayah yang turut menjadi perhatian akibat kondisi kabut asap.
Malaysia membuka pintu untuk membantu Indonesia, tetapi langkah tersebut tetap menunggu permintaan resmi dari Jakarta. Sementara itu, kedua negara memilih memperkuat pencegahan, pemantauan hotspot, dan operasi modifikasi cuaca untuk menekan risiko karhutla serta dampak kabut asap lintas batas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama