Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Sinyal Prabowo vs Jokowi di Balik Omongan Ketum Projo Budi Arie: Elite Belum Tentu Satu Perspektif

        Sinyal Prabowo vs Jokowi di Balik Omongan Ketum Projo Budi Arie: Elite Belum Tentu Satu Perspektif Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan pemilu berlangsung lebih cepat dari seharusnya memunculkan pertanyaan baru mengenai dinamika hubungan dan persaingan elite politik di Indonesia. Yang paling menjadi perhatian adalah kemungkinan persaingan antara Joko Widodo (Jokowi) vs Prabowo Subianto.

        Peneliti Utama Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro menilai pernyataan relawan itu menunjukkan bahwa elite politik belum tentu memiliki perspektif yang sama dalam melihat arah politik setelah Pemilu 2024.

        Baca Juga: Loyalis Jokowi: Enggak Bisa Ngomong Pemerintahan Antikorupsi Kalau Membiarkan Praktik Korupsi...

        "Yang jelas, sebetulnya, ada kepentingan apa untuk menyampaikan itu, gitu kan?" kata Siti, dikutip Rabu (26/8/2026).

        Bagi Siti Zuhro, persoalan utamanya bukan sekadar apakah pemilu benar-benar akan dipercepat. Ia justru mempertanyakan kepentingan di balik munculnya pernyataan tersebut ketika pemerintahan sekarang baru berjalan kurang dari dua tahun.

        Pernyataan Budi Arie menurutnya memperlihatkan adanya kompetisi dan kontestasi di antara elite politik. Kondisi tersebut dinilai tidak sehat apabila energi politik justru tersedot pada spekulasi mengenai kontestasi berikutnya, sementara pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan untuk menuntaskan agenda yang dijanjikan kepada masyarakat.

        "Kita belakangan ini memang merasakan adanya elite yang mungkin saling berkompetisi, berkontestasi. Dan sebetulnya kalau dalam konteks itu, kan tidak sehat. Karena apa? Karena Pemilu baru usai 2024. Pak Prabowo dilantik sampai sekarang belum dua tahun. Baru Oktober ini dua tahunnya," ungkapnya. 

        Pernyataan Budi Arie juga menurutnya memperkeruh situasi politik. Ketika elite masih terus berbicara mengenai kontestasi berikutnya, masyarakat berpotensi mendapatkan kesan bahwa persaingan politik belum berakhir meski pemilu sebelumnya telah selesai.

        "Ini yang membuat politik kita makin keruh, sudah keruh, semakin keruh, gitu. Karena elite-nya sendiri belum tentu satu perspektif untuk mengisi pasca-Pemilu 2024," jelasnya.

        Menurut Siti, kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak negatif karena energi publik dan pemerintah justru terkuras untuk membahas diskursus politik yang belum relevan dengan kebutuhan saat ini.

        "Kontestasi, kompetisi masih terus on and on and on. Ini sebetulnya sangat berdampak negatif tentunya. Karena energi kita dikuras untuk satu diskursus gitu yang sebetulnya kurang relevan," tuturnya.

        Sebelumnya, Ketum Projo Budi Arie mengejutkan publik dengan pernyataannya tentang kemungkinan pemilu lebih cepat sebelum 2029. Ia menyebutkan hal itu ketika berada di dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

        Dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial, mantan menteri itu mengajak audiens tidak hanya terpaku pada skenario politik menuju Pemilu 2029. Ia bahkan mengaku telah menyampaikan firasat politik tersebut kepada Jokowi.

        Baca Juga: UGM Akui Tak Bisa Pastikan Keaslian Ijazah Jokowi yang Kini Beredar

        "Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" kata Budi Arie.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: