Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ketua Parlemen Iran Ejek Trump: 'Make America Hungry Again'

        Ketua Parlemen Iran Ejek Trump: 'Make America Hungry Again' Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengejek Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui unggahan di media sosial. Ghalibaf menggunakan slogan "Make America Hungry Again" sebagai sindiran terhadap slogan politik Trump.

        Unggahan tersebut dibuat Ghalibaf pada Senin (24/8/2026). Ia menampilkan gambar bertuliskan "Make America Hungry Again" yang disertai statistik mengenai kelaparan dan kerawanan pangan di Amerika Serikat.

        Sindiran tersebut muncul setelah Trump membagikan laporan Newsmax di platform Truth Social. Laporan itu secara tidak akurat mengutip Ghalibaf dengan pernyataan bahwa Iran sedang kelaparan dan tidak mampu bertahan hidup.

        Tanpa menyebut nama Trump, Ghalibaf membantah narasi tersebut. "Anda tidak bisa menutupi kekalahan Anda dengan klaim yang tidak berdasar," tulisnya.

        Slogan yang digunakan Ghalibaf sengaja menyerupai "Make America Great Again". Slogan tersebut merupakan semboyan politik yang identik dengan Trump.

        Perseteruan keduanya berlangsung ketika Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Trump sebelumnya menyebut kebijakan tersebut sebagai "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun."

        Trump juga menggambarkan kebijakannya terhadap Iran sebagai "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya". Ia memperingatkan negara yang memberikan dukungan ekonomi kepada Teheran akan menghadapi konsekuensi berat.

        Ketegangan AS dan Iran sebelumnya meningkat setelah serangan militer kedua negara. AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari 2026 sebelum Teheran membalas dengan menyerang Israel dan sejumlah aset militer AS.

        Baca Juga: Menlu Iran Ejek Strategi Trump, Sebut AS Frustrasi Hadapi Teheran

        Kedua pihak kemudian mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April. Pada pertengahan Juni, AS dan Iran juga menandatangani nota kesepahaman mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

        Namun, implementasi kesepakatan tersebut kemudian terhenti akibat perbedaan antara kedua negara. AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada bulan berikutnya dan Teheran membalas dengan menargetkan fasilitas serta peralatan militer AS di sejumlah negara Arab.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: