Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Merger Mitratel dan TBIG Kembali Mencuat, Bakal Lahirkan Raksasa Menara Rp93 Triliun

        Merger Mitratel dan TBIG Kembali Mencuat, Bakal Lahirkan Raksasa Menara Rp93 Triliun Kredit Foto: Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Wacana merger dua perusahaan menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), kembali mencuat. Jika terealisasi, aksi korporasi tersebut berpotensi mempertemukan dua pemain besar industri menara telekomunikasi Indonesia dan membentuk perusahaan dengan nilai aset menara yang sangat besar.

        Mengutip laporan Bloomberg pada Senin (24/8/2026), MTEL dan TBIG disebut tengah mempertimbangkan skema transaksi yang melibatkan salah satu bank untuk membantu proses merger dalam beberapa pekan mendatang.

        Rencana tersebut bukan kali pertama kedua perusahaan dikaitkan dengan aksi konsolidasi. Wacana serupa bahkan pernah muncul lebih dari satu dekade lalu.

        Jejak rencana merger MTEL dan TBIG tercatat sejak 2014. Saat itu, Telkom dikabarkan berencana menukar 49% saham Mitratel dengan 5,7% saham TBIG. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan pada 2015.

        Telkom juga disebut memiliki opsi untuk menukar sisa 51% saham Mitratel. Apabila opsi tersebut dijalankan sepenuhnya, kepemilikan Telkom di TBIG berpotensi mencapai sekitar 13,7%.

        Kini, wacana konsolidasi kembali muncul di tengah perkembangan industri menara telekomunikasi yang semakin terkonsolidasi.

        Berpotensi Jadi Raksasa Menara

        Jika merger terealisasi, MTEL dan TBIG berpotensi membentuk salah satu perusahaan menara terbesar di Indonesia dengan nilai sekitar Rp90 triliun sampai Rp93 triliun.

        Dari sisi jumlah infrastruktur, perusahaan hasil merger diperkirakan akan mengelola sekitar 106.000 menara, dengan cakupan yang jauh lebih besar dibandingkan masing-masing perusahaan secara terpisah.

        Konsolidasi tersebut akan mempertemukan dua perusahaan dengan latar belakang berbeda. Mitratel merupakan bagian dari ekosistem Telkom Indonesia, sementara TBIG berada di bawah kelompok usaha swasta.

        Baca Juga: Danantara Siapkan Skema Transformasi PT PP: Merger Dulu, Baru Restrukturisasi

        Baca Juga: Danantara Guyur Investasi Rp17,7 Triliun untuk Kredit Swasta di Swiss

        Baca Juga: Bos Danantara Bidik Laba BUMN Terus Melejit hingga Tembus Rp450 Triliun

        Dengan skala tersebut, merger berpotensi menciptakan efisiensi operasional, memperluas jangkauan jaringan menara, sekaligus memperkuat posisi perusahaan hasil penggabungan dalam industri infrastruktur telekomunikasi.

        Meski kembali menjadi perhatian pasar, rencana merger MTEL dan TBIG masih berada pada tahap pembahasan. Sejumlah detail penting, termasuk struktur transaksi, valuasi, komposisi kepemilikan setelah merger, serta persetujuan dari pemegang saham dan regulator, masih harus ditentukan.

        Maka dari itu, angka nilai transaksi maupun jumlah menara perusahaan hasil merger masih merupakan proyeksi berdasarkan rencana yang diberitakan, bukan hasil merger yang telah terealisasi.

        Apabila berhasil diwujudkan, merger MTEL dan TBIG akan menjadi salah satu aksi konsolidasi terbesar di sektor infrastruktur telekomunikasi Indonesia dan berpotensi mengubah peta persaingan bisnis menara nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: