Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Pemerintah didesak merombak total strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Penanganan yang selama ini dinilai lebih banyak dilakukan setelah api membesar perlu diubah menjadi strategi yang mengutamakan pencegahan dan deteksi sejak dini.
Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menilai perubahan strategi tersebut mendesak dilakukan, terutama menghadapi lonjakan titik api di tengah ancaman cuaca ekstrem. Menurut dia, pencegahan harus menjadi langkah utama karena kebakaran yang sudah meluas membutuhkan biaya penanganan lebih besar dan berpotensi menimbulkan dampak lebih luas bagi masyarakat.
Firman mendorong pemerintah Indonesia meniru strategi China dalam menangani kebakaran hutan. Pendekatan tersebut mencakup tiga aspek utama, yakni pencegahan ketat, deteksi cepat, serta respons bersama.
Pada aspek pencegahan, pemerintah diminta memperketat larangan pembukaan lahan dengan cara membakar. Edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan juga perlu diperkuat untuk mencegah munculnya titik api.
Sementara itu, deteksi dini perlu didukung dengan pemanfaatan teknologi. Firman menilai penggunaan kamera pemantau selama 24 jam dapat membantu mendeteksi titik api dalam waktu singkat sehingga kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.
Ia menyebut sistem tersebut mampu mengetahui keberadaan titik api hanya dalam waktu sekitar 12 menit. Dengan deteksi cepat, api yang masih kecil dapat langsung dipadamkan.
Jika kebakaran terlanjur membesar, Firman menilai respons harus dilakukan secara terpadu melalui jalur darat dan udara. Penggunaan drone, helikopter, serta pengerahan personel dalam jumlah besar dinilai menjadi bagian penting dalam mempercepat pemadaman.
Firman mencontohkan penanganan kebakaran hutan di Chongqing, China, pada 2022 sebagai salah satu gambaran penerapan strategi tersebut.
Dalam penanganan kebakaran itu, lebih dari 20 ribu orang disebut terlibat secara bersama-sama. Kebakaran berhasil dipadamkan dalam waktu 10 hari dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Menurut Firman, keberhasilan penanganan karhutla juga tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kesiapan personel. Semangat gotong royong masyarakat menjadi faktor penting yang perlu dibangun dalam menghadapi bencana.
Ia mencontohkan penggunaan istilah 加油 (jiā yóu) di China yang digunakan untuk memberikan semangat ketika bekerja, bertanding, maupun menghadapi musibah. Semangat kebersamaan tersebut dinilai perlu diterapkan dalam penanganan karhutla di Indonesia.
Firman juga mendorong kolaborasi lintas lembaga antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan pemerintah daerah.
Kolaborasi tersebut dinilai perlu diwujudkan melalui tiga lapis pertahanan untuk menghadapi karhutla.
Baca Juga: Karhutla pada 2027 Diprediksi Makin Ganas, DPR Kasih Alarm
Lapis pertama berupa penegakan hukum dan pengawasan yang ketat. Lapis kedua dilakukan dengan memperbanyak menara pemantauan serta aplikasi untuk mendeteksi titik api. Sementara lapis ketiga berupa latihan gabungan secara rutin antarinstansi sebelum memasuki puncak kemarau.
Firman menilai ketiga langkah tersebut harus berjalan secara beriringan. Namun, pencegahan tetap harus menjadi prioritas karena dinilai paling murah sekaligus paling efektif untuk mengurangi risiko bencana.
Deteksi dini dan respons bersama kemudian menjadi lapisan pengamanan apabila upaya pencegahan tidak sepenuhnya berhasil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: