- Home
- /
- New Economy
- /
- CSR
Apresiasi Aksi Cepat Tanggap Bencana NTT, Forum CSR DKI Dorong Bantuan Pangan Retort Direplikasi Lintas Sektor dan Pemerintah
Kredit Foto: Istimewa
Ketua Forum Corporate Social Responsibility (CSR) DKI Jakarta, Aldi Imam Wibowo, menyampaikan rasa duka dan keprihatinan mendalam atas bencana yang menimpa masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejalan dengan upaya tanggap darurat, Forum CSR DKI Jakarta turut mengapresiasi aksi nyata Toko Daging Nusantara yang mengirimkan bantuan pangan darurat berupa 1 (satu) ton daging rendang siap santap (ready to eat) bagi para korban terdampak.
Dalam situasi krisis pascabencana, pemenuhan nutrisi para pengungsi kerap terancam akibat padamnya pasokan listrik, minimnya sarana air bersih, rusaknya jalan raya, hingga keterbatasan peralatan dapur umum.
Kehadiran inovasi pangan berteknologi retort—yakni proses sterilisasi termal modern pada kemasan kedap udara—menghadirkan solusi nyata terhadap pemenuhan gizi serta ketahanan fisik masyarakat terdampak untuk dapat mencegah penurunan daya tahan tubuh dan malnutrisi,jaminan higienitas tanpa risiko kontaminasi pangan, menembus isolasi geografis tanpa rantai pendingin (Non-Cold Chain) dan pemberian asupan secara cepat (Zero Cooking Time).
"Kami menyampaikan rasa empati dan bela sungkawa sedalam-dalamnya bagi saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Korban bencana tidak hanya butuh karbohidrat instan, melainkan asupan protein berkualitas agar imun tubuh tetap terjagadi pengungsian.
Korelasi teknologi retort ini sangat krusial: nutrisi terjaga, steril, dan dapat langsung dinikmati tanpa perlu repot memasak di tengah keterbatasan fasilitas dapur umum. Langkah Toko Daging Nusantara adalah terobosan kemanusiaan yang sangat tepat sasaran," ujar Aldi Imam Wibowo, dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Mengingat efektivitasnya di zona bencana, Aldi mendorong agar inovasi ini diadopsi secara luas khususnya dalam kebijakan kebencanaan nasional. Karea keunggulan dari produk retort ini dapat bertahan selama 1 tahun lamanya dan bagus untuk Cadanganpangan.
"Harapan besar kami, model pemanfaatan teknologi retort ini dapat segera direplikasi atau di-copy paste oleh para pemangku kepentingan lainnya, terutama pemerintah—mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, Badan Pangan Nasional, hingga pemerintah daerah.
Replikasi program pangan berteknologi retort ini layak menjadi standar utama cadangan logistik bencana nasional: tahan lama, bebas pendingin, aman dikonsumsi, dan menjamin ketahanan gizi masyarakat di masa darurat," tambahnya.
Forum CSR DKI Jakarta berharap sinergi antara teknologi pangan industri, aksi korporasi, dan kebijakan pemerintah dapat terus diperkuat guna menghadirkan responkebencanaan yang cepat, bermartabat, dan berorientasi pada pemenuhan gizi berkelanjutan. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: