Kredit Foto: Boyke P. Siregar
PT Radana Bhaskara Finance Tbk (HDFA) menargetkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp4,15 triliun sepanjang 2026. Target tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk kembali memperluas bisnis pembiayaan dengan tetap selektif memilih sektor dan nasabah di tengah risiko industri multifinance yang meningkat.
Hingga semester I-2026, HDFA telah menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp1,64 triliun. Realisasi tersebut terutama berasal dari pembiayaan factoring sebesar Rp900 miliar atau 54,88% dari total penyaluran.
Kontribusi berikutnya berasal dari Asset Based Financing (ABF) sebesar Rp560 miliar atau 34,15%. Sementara fasilitas modal usaha menyumbang sekitar Rp180 miliar atau 10,98%.
Dengan realisasi tersebut, perseroan masih memiliki ruang untuk mengejar target penyaluran Rp4,15 triliun hingga akhir tahun. Namun, ekspansi tidak dilakukan secara agresif karena HDFA tetap menempatkan kualitas aset sebagai salah satu prioritas.
Direktur Utama Radana Bhaskara Finance, Lim Eng Khim mengatakan, sikap selektif dalam penyaluran pembiayaan diperlukan karena sektor yang menjadi fokus portofolio perseroan menghadapi dinamika harga komoditas.
"Sikap kehati-hatian HDFA lebih didorong oleh dinamika di sektor spesifik yang menjadi fokus portofolionya, yaitu pertambangan dan perkebunan yang mewakili hampir 50 persen daripada total pembiayaan HDFA," ujar Lim dalam Public Expose Live 2026, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut perseroan, sektor komoditas dan logistik masih memberikan peluang bagi industri pembiayaan. Produksi nikel Indonesia, misalnya, meningkat dari 1,6 juta ton pada 2022 menjadi 2,5 juta ton pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 3,74 juta ton pada 2030.
Di sektor transportasi dan logistik, kontribusinya terhadap produk domestik bruto juga meningkat dari Rp719,6 triliun pada 2021 menjadi Rp1.466,2 triliun pada 2025. Kondisi tersebut membuka peluang pembiayaan untuk pelaku usaha dalam rantai nilai komoditas dan logistik.
Namun, HDFA tetap mencermati perkembangan harga komoditas serta perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi kemampuan pembayaran nasabah. Perseroan juga mencatat realisasi produksi batu bara pada semester I 2026 sebesar 367 juta ton, masih di bawah target 600 juta ton.
Baca Juga: BTPN Syariah Mulai Andalkan Pembiayaan Individu, Sudah Tembus Rp59 Miliar
Baca Juga: Danantara Tegaskan Pembiayaan Kopdes Tak Akan Ganggu Bank BUMN
Baca Juga: Danantara Kasih Utang Whoosh ke Purbaya Pertengahan September 2026
Untuk menopang ekspansi, HDFA mengandalkan kemitraan dengan dealer alat berat dan truk serta berbagai mitra perbankan domestik, internasional, dan syariah. Perseroan juga terus memperluas akses pendanaan dengan tingkat bunga yang kompetitif.
Selain ekspansi pembiayaan, manajemen menempatkan independensi sebagai salah satu keunggulan dalam persaingan industri multifinance. Posisi tersebut memungkinkan HDFA membangun kemitraan dengan berbagai brand principal alat berat dan kendaraan niaga.
Lim menilai kecepatan proses dan fleksibilitas menjadi pembeda HDFA dibandingkan perusahaan pembiayaan yang memiliki afiliasi dengan bank maupun brand tertentu.
"Efisiensi dan kecepatan itu merupakan salah satu competitive advantage-nya HDFA," kata Lim.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan