Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Anies Pamer Waktu Kuliah di UGM Sudah Memimpin 5.000 Orang

        Anies Pamer Waktu Kuliah di UGM Sudah Memimpin 5.000 Orang Kredit Foto: Instagram/aniesbaswedan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Anies Baswedan membagikan perjalanan panjang kepemimpinannya, mulai dari menjadi ketua kelas saat duduk di bangku sekolah dasar hingga memimpin pemerintahan dengan puluhan ribu aparatur sipil negara (ASN) dan jutaan warga DKI Jakarta.

        Kisah tersebut disampaikan Anies saat memberikan kuliah umum bertema leadership di Albukhary International University (AIU), Kedah, Malaysia.

        Di hadapan ratusan mahasiswa internasional dan civitas akademika, ia mengajak mahasiswa melihat pengalaman hidup sebagai proses pembelajaran dalam membangun kepemimpinan.

        Anies mengatakan kemampuan memimpin tidak muncul secara instan. Menurut dia, pengalaman dalam berbagai skala kepemimpinan memberikan pelajaran berbeda yang kemudian membentuk cara seseorang mengambil keputusan dan mengelola orang lain.

        Anies mengawali cerita dari pengalamannya menjadi ketua kelas saat masih duduk di bangku SD. Saat itu, ia hanya memimpin sekitar 25 hingga 40 siswa.

        Dalam kelompok kecil, kata Anies, kepemimpinan dapat dijalankan secara langsung karena seorang pemimpin masih memungkinkan berkomunikasi dan membagi tugas secara personal kepada setiap anggota.

        Pengalaman tersebut berlanjut ketika memasuki jenjang SMP. Anies dipercaya menjadi ketua panitia acara tutup tahun dengan jumlah orang yang dikoordinasikan mencapai sekitar 150 hingga 200 orang.

        Skala kepemimpinan yang semakin besar membuat pendekatan yang digunakan mulai berubah.

        Saat Memimpin 5.000 Orang di UGM

        Pengalaman dengan skala yang jauh lebih besar diperoleh Anies ketika menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

        Saat itu, ia dipercaya mengelola program orientasi mahasiswa baru yang melibatkan sekitar 4.500 mahasiswa baru dan 500 panitia.

        Dari pengalaman tersebut, Anies melihat adanya perbedaan mendasar dalam cara memimpin kelompok kecil dan kelompok besar.

        Ketika hanya memimpin puluhan orang, pembagian tugas dapat dilakukan secara langsung dan personal. Namun, ketika jumlah orang yang dikelola mencapai ratusan hingga ribuan, pemimpin membutuhkan sistem yang lebih terstruktur.

        Anies menjelaskan bahwa semakin besar organisasi yang dipimpin, semakin penting keberadaan struktur organisasi, standar operasional prosedur (SOP), serta pembagian tugas yang jelas.

        Menurut dia, seorang pemimpin tidak bisa lagi mengandalkan komunikasi personal ketika jumlah orang yang dikelola sudah mencapai ribuan.

        "Skala kecil 25 sampai 40 orang, memimpin bisa dilakukan dengan pembagian tugas langsung secara personal tanpa memerlukan struktur yang rumit," kata Anies dalam pemaparannya.

        Sementara pada skala ratusan hingga ribuan orang, seorang pemimpin harus membangun struktur organisasi, SOP, dan job description yang jelas agar organisasi dapat berjalan secara efektif.

        Dalam kuliah umum tersebut, Anies juga mengajak mahasiswa untuk rutin melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup masing-masing.

        Menurut dia, setiap pengalaman, termasuk pengalaman dalam memimpin kelompok dengan ukuran berbeda, dapat menjadi sumber pembelajaran untuk menghadapi tantangan berikutnya.

        Ia menekankan bahwa perjalanan kepemimpinan perlu dilihat sebagai proses bertahap. Pengalaman memimpin kelompok kecil dapat menjadi fondasi sebelum seseorang dipercaya mengelola organisasi yang lebih besar.

        Dari ketua kelas hingga memimpin pemerintahan dengan cakupan jutaan warga, Anies menggambarkan kepemimpinan sebagai perjalanan yang menuntut kemampuan beradaptasi ketika skala tanggung jawab terus meningkat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: