Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PSI Soroti Subsidi TransJakarta ke Luar Jakarta: Jangan Semua Beban Ditanggung Warga DKI

        PSI Soroti Subsidi TransJakarta ke Luar Jakarta: Jangan Semua Beban Ditanggung Warga DKI Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) August Hamonangan meminta pemerintah daerah mengevaluasi kembali skema subsidi TransJakarta. Hal itu khususnya untuk rute yang melayani wilayah di luar Jakarta.

        Menurut August, kebijakan tersebut perlu dikaji karena perusahaan terkait masih menghadapi berbagai kebutuhan operasional, sementara kondisi keuangannya disebut mengalami kerugian hingga puluhan miliar rupiah. Ia menilai pemberian subsidi untuk transportasi lintas wilayah seharusnya tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

        Baca Juga: Jokowi Ternyata Dibuat Kesal Praperadilan Berjilid-jilid Roy Suryo: Ganggu Kepastian Hukum

        “TransJakarta punya banyak kebutuhan. Kita tetap berikan dan setujui dalam bentuk pemberian penyertaan modal daerah atau PMD. PMD ini dihimpun dari uang pajak yang diberikan oleh warga kepada kita. Kalau larinya ke subsidi-subsidi rute di luar, ini tidak adil bagi mereka,” kata August, dikutip Kamis (10/9/2026).

        August mengatakan persoalan tersebut bukan berarti dirinya menolak pengembangan layanan perusahaan tersebut hingga ke daerah penyangga. Menurut dia, konektivitas transportasi antara wilayah kota dan sekitarnya tetap penting. Yang menjadi persoalan adalah mekanisme pembiayaannya.

        August mengusulkan adanya perbedaan besaran subsidi ketika bus perusahaan tersebut sudah melewati batas administrasi DKI Jakarta. Ia memberikan contoh pengurangan subsidi sebesar Rp500 sehingga tarif perjalanan dapat menjadi Rp4.000.

        “Kalau sudah melewati batas wilayah, sebaiknya subsidinya disesuaikan kembali. Misalkan, subsidinya dikurangi Rp500 perak. Sehingga, tarif untuk menggunakan layanannya naik jadi Rp4.000. Jadi, subsidinya tidak dibuat sama,” ujar August.

        Menurutnya, penyesuaian tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi tekanan terhadap keuangan perusahaan tanpa harus menghentikan pelayanan ke wilayah penyangga.

        Selain meminta evaluasi subsidi, ia menyoroti minimnya dukungan dari sejumlah daerah yang menjadi tujuan rute dari TransJakarta.

        Ia mencontohkan layanan menuju Tangerang Selatan. Menurutnya, operasional bus di wilayah tersebut membutuhkan fasilitas pendukung, seperti halte dan tempat untuk melakukan perputaran bus. Namun, ia menyebut perusahaan justru harus mencari sendiri lokasi yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut.

        “Ini yang agak miris di kita. Saya terbuka saja. Misalnya untuk melewati wilayah Tangerang Selatan. Bis-bis kita perlu halte sebagai tempat pemberhentian dan perputaran. Nah, ini saja TransJakarta tidak dibantu,” ucapnya.

        Ia berharap ada skema kerja sama yang membuat pengembangan transportasi lintas wilayah tetap berjalan, tetapi tidak membuat seluruh biaya dan subsidi ditanggung Jakarta.

        Baca Juga: PDIP: Prabowo Tinggal Melihat Apakah Ada Sinyal Ketidakpuasan atau Kekecewaan dari AHY

        “Jadinya, TransJakarta yang harus repot-repot mencari tempat untuk bis-bisnya berhenti dan berputar. TransJakarta lah yang harus mencari dalam tanda petik ‘halte sementara’ atau ‘halte liar’ sebagai tempat untuk pemberhentian dan naik-turun penumpangnya,” tutur August.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: