Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Temui Tentara Israel di Suriah, Netanyahu Yakinkan Pemerintahan Iran Sudah Menjelang Runtuh

        Temui Tentara Israel di Suriah, Netanyahu Yakinkan Pemerintahan Iran Sudah Menjelang Runtuh Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan antara Israel dan Iran kembali meningkat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut rezim Iran berada di ambang keruntuhan dan menegaskan bahwa menjatuhkan pemerintahan tersebut menjadi salah satu tujuan utama Israel.

        Pernyataan itu disampaikan Netanyahu saat mengunjungi pasukan Israel di perbatasan Suriah, tepatnya di sisi Gunung Hermon yang berbatasan dengan Suriah, pada 9 September 2026. Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu didampingi Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

        Netanyahu menyatakan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan Israel. Namun, ia menilai negaranya sudah semakin dekat dengan tujuan untuk menjatuhkan rezim Iran.

        Ia juga meyakini kelompok-kelompok yang menjadi bagian dari jaringan Iran di Timur Tengah pada akhirnya akan mengalami keruntuhan.

        Ketegangan tersebut juga berkaitan dengan keberadaan pasukan Israel di wilayah selatan Suriah. Pasukan Israel telah ditempatkan di zona keamanan kawasan itu sejak pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024.

        Penempatan pasukan tersebut menggantikan zona penyangga yang sebelumnya dipatroli PBB dan memisahkan wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak 1974.

        Netanyahu menegaskan Israel tidak akan membiarkan kelompok bersenjata yang disebutnya sebagai tentara teroris membangun posisi di sepanjang perbatasan negaranya.

        Sejak jatuhnya pemerintahan Assad, Israel juga telah melancarkan ratusan serangan udara dan operasi masuk ke wilayah Suriah. Langkah tersebut disebut bertujuan mempertahankan keberadaan Israel di zona keamanan sekaligus memperluas wilayah demiliterisasi.

        Di tengah situasi itu, Iran turut mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan memiliki pilihan untuk memberikan kejutan militer baru apabila agresi berlanjut.

        Brigadir Jenderal Ramezan Sharif menyebut respons Iran berpotensi mengubah dinamika strategis di Timur Tengah.

        Iran juga mengklaim telah menyita drone bawah laut milik Amerika Serikat di Selat Hormuz. Klaim tersebut disebut sebagai keberhasilan dalam bidang intelijen dan pengawasan militer.

        Sementara itu, anggota parlemen Iran Kamran Ghazanfari memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah berada di ambang Perang Dunia III akibat eskalasi konflik.

        Baca Juga: Trump Mulai Ubah Istilah 'Perang' Iran jadi 'Konflik Militer'

        Parlemen Iran juga mempertimbangkan kembali rencana untuk keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai respons terhadap tekanan Amerika Serikat dan Israel.

        Ghazanfari menyebut terdapat indikasi bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang mempersiapkan operasi militer berskala besar. Menurutnya, kedua negara tersebut kemungkinan berniat merebut sejumlah pulau di wilayah selatan Iran dan telah membawa banyak pasukan serta peralatan ke kawasan tersebut.

        Pernyataan dari kedua pihak tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan di kawasan. Israel menegaskan targetnya terhadap rezim Iran, sementara Iran memperingatkan adanya kemungkinan respons militer baru jika tekanan dan agresi terus berlanjut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: