Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Dunia Tembus US$108, Pertamax Berpotensi Naik hingga Rp20 Ribu

        Harga Minyak Dunia Tembus US$108, Pertamax Berpotensi Naik hingga Rp20 Ribu Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Konflik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz, kembali mengguncang stabilitas harga energi dan minyak mentah dunia. Eskalasi yang belum mereda tersebut turut menimbulkan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk produk non-subsidi di Indonesia.

        Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menilai situasi saat ini jauh lebih pelik dibandingkan konflik Rusia-Ukraina sebelumnya. Menurutnya, harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabil atau mengalami penurunan signifikan akibat perang di Timur Tengah.

        "Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

        Eko menjelaskan harga minyak global yang terus bertahan tinggi dapat memicu penyesuaian harga BBM non-subsidi. Salah satu produk yang berpotensi terdampak adalah Pertamax, yang menurutnya bisa berada di kisaran Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter.

        "Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," beber Eko. Kondisi tersebut menunjukkan harga BBM masih sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah global.

        Sebelumnya, perang yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran turut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Pada perdagangan Kamis, harga minyak bahkan sempat menembus US$108 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026.

        Baca Juga: Penjualan Pertamax Green Naik 267%, Pertamina Siapkan Perluasan Bioetanol

        Harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel pada pekan ini seiring meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

        Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam jangka lebih panjang. Para pedagang kemudian memborong minyak mentah untuk mengantisipasi gangguan pasokan, yang pada akhirnya turut mendorong harga komoditas energi tersebut semakin tinggi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: