Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pertamina Targetkan Seluruh Produk Gasoline Berbasis Etanol dalam 1-2 Tahun

        Pertamina Targetkan Seluruh Produk Gasoline Berbasis Etanol dalam 1-2 Tahun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pertamina Patra Niaga menargetkan seluruh produk bahan bakar minyak (BBM) jenis gasoline menggunakan campuran etanol dalam 1–2 tahun ke depan. Rencana tersebut menjadi bagian dari dukungan Pertamina terhadap kebijakan pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan bahan bakar nabati dan transisi energi.

        Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, mengatakan implementasi tersebut masih menunggu kebijakan pemerintah yang saat ini tengah disiapkan.

        "Rencananya juga saat ini pemerintah sedang menggodok kebijakannya dan insya Allah mungkin dalam 1–2 tahun ke depan, semua produk gasoline akan berbasis etanol," ujar Eko di Fuel Terminal Rewulu, Yogyakarta, Jumat (11/9).

        Menurut Eko, penggunaan etanol dalam gasoline menjadi salah satu instrumen Pertamina dalam mendukung agenda transisi energi, khususnya melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi berbasis nabati.

        "Ini salah satu yang nanti bagian dari transisi energi juga, penggunaan nabati berbasis etanol untuk BBM, khususnya yang BBM gasoline," kata dia.

        Saat ini Pertamina telah memasarkan Pertamax Green 95 dengan kadar etanol 5 persen atau E5. Produk yang diluncurkan pada 2023 tersebut telah tersedia di seluruh provinsi di Pulau Jawa, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

        Eko mengatakan pasokan Pertamax Green 95 saat ini masih berasal dari terminal BBM di Surabaya. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki akses yang lebih dekat dengan sumber pasokan etanol yang diproduksi PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto.

        "Pertamax Green disuplai dari terminal Surabaya, karena memang untuk produksi etanolnya masih disuplai melalui Enero, perusahaan di Mojokerto yang memproduksi etanol," jabarnya.

        Seiring dengan rencana peningkatan kadar campuran etanol, Pertamina Patra Niaga mulai menyiapkan sarana dan prasarana di terminal BBM. Persiapan tersebut diperlukan karena proses blending etanol membutuhkan fasilitas penyimpanan dan penanganan yang sesuai dengan karakteristik komoditas tersebut.

        "Ini sedang menyiapkan kesiapan dari sisi sarana prasarana dari terminal ya, karena ini handling-nya harus benar-benar bagus, dari kita juga harus menyiapkan tangki maupun juga sarana blending-nya juga harus disesuaikan," jelas Eko.

        Eko mengatakan pengembangan gasoline berbasis etanol akan diselaraskan dengan kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk roadmap mandatori bioetanol.

        "Mengenai mengenai roadmap-nya sendiri, saat ini memang kita baru di E5 ya, apakah nanti ini sedang digodok eh dan disiapkan kebijakannya oleh Kementerian ESDM nanti berbasis E5, E10, kemudian sampai E20," jabarnya.

        Menurut dia, peningkatan pemanfaatan etanol membutuhkan kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Selain infrastruktur blending di sisi hilir, ketersediaan pasokan etanol menjadi faktor penting untuk mendukung peningkatan volume pencampuran.

        Pertamina juga melihat perlunya pengembangan kapasitas produksi etanol nasional. Saat ini pasokan untuk Pertamax Green masih bertumpu pada produksi Enero di Mojokerto, sementara ke depan terdapat rencana pengembangan sejumlah fasilitas produksi etanol baru.

        "Jadi prioritasnya sementara masih Jawa, karena basis produksinya juga etanolnya ada di Mojokerto, walaupun ada rencana pengembangan tiga sampai empat eh pabrik etanol baru, yang yang nanti untuk bisa bagian untuk men-support ekosistem dari etanol," tambah Eko.

        Pertamina Dorong Kepastian Kebijakan Cukai

        Selain kesiapan infrastruktur dan pasokan, aspek fiskal juga menjadi bagian dari pengembangan ekosistem bioetanol untuk bahan bakar. Eko mengatakan Pertamina sebelumnya telah mengajukan dukungan pemerintah terkait pembebasan cukai etanol yang digunakan untuk kebutuhan *blending* BBM.

        "Kalau fuel ini karena untuk kepentingan transisi energi dan juga bagian dari shifting energi, kita kemarin juga mengajukan Kementerian untuk bisa didukung terkait dengan bebas cukai, dan saat ini sedang diproses," kata Eko.

        Menurut Eko, kepastian kebijakan tersebut akan mendukung Pertamina dalam memperluas fasilitas *blending* di terminal-terminal BBM.

        Baca Juga: Pertamina Beberkan Penyebab Kendala Distribusi BBM Banyuwangi–Jember

        Baca Juga: Pertamina Makin Dirampingkan, 118 Anak Usaha Masuk Target Penyederhanaan

        "Jadi prioritasnya sementara masih Jawa, karena basis produksinya juga etanolnya ada di Mojokerto, walaupun ada rencana pengembangan tiga sampai empat eh pabrik etanol baru, yang yang nanti untuk bisa bagian untuk men-support ekosistem dari etanol," tambah Eko.

        Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan pemerintah telah menyelesaikan persoalan cukai untuk etanol yang digunakan sebagai bahan bakar

        "Saat ini dapat kami sampaikan untuk implementasi bioetanol ini tidak ada lagi cukai. Jadi masalah cukai sudah diselesaikan dengan Peraturan Menteri Keuangan, dan saat ini cukai sudah ditiadakan sehingga nanti memudahkan teman-teman Pertamina untuk mengimplementasikan," ungkap Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR beberapa waktu lalu.

        Dengan roadmap pemanfaatan bioetanol yang disiapkan bertahap, Pertamina kini berfokus pada kesiapan infrastruktur, pasokan bahan baku, serta penguatan ekosistem industri untuk mendukung peningkatan kadar campuran etanol pada gasoline.

        Target tersebut sekaligus menempatkan pengembangan bioetanol sebagai salah satu bagian dari strategi Pertamina dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi dari sektor transportasi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: