Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bandung Timur Kembangkan Ruang Kreatif, Dorong Aktivitas Ekonomi Baru

        Bandung Timur Kembangkan Ruang Kreatif, Dorong Aktivitas Ekonomi Baru Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        Perkembangan kawasan Bandung Timur mulai memasuki fase yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan hunian dan pusat komersial. Kehadiran ruang seni, budaya, dan kreativitas membuka peluang terbentuknya titik aktivitas baru yang dapat mempertemukan masyarakat, komunitas, pelaku industri kreatif, hingga kegiatan ekonomi.

        Salah satu perkembangan tersebut terlihat dari hadirnya LIMINAL, karya arsitek Budi Pradono, di Dia.Lo.Gue dotHub, Summarecon Bandung. Ruang tersebut diperkenalkan kepada publik bersamaan dengan pembukaan pameran Budi Pradono: ANTI-OBJECT ARCHITECTURE di Circular Plaza, Dia.Lo.Gue @DotHub Bandung, Sabtu (12/9/2026).

        Kehadiran ruang kreatif di Bandung Timur menjadi menarik karena aktivitas seni dan budaya Kota Bandung selama ini banyak berkembang di kawasan pusat kota dan Bandung Utara. Munculnya ruang baru di wilayah timur berpotensi memperluas sebaran aktivitas kreatif sekaligus menciptakan pola interaksi ekonomi baru.

        Executive Director Summarecon Bandung, Hindarko Hasan, mengatakan pengembangan kawasan tidak hanya berkaitan dengan fungsi hunian dan komersial, tetapi juga perlu menyediakan ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas.

        “Summarecon Bandung dikembangkan tidak hanya sebagai kawasan hunian dan komersial, tetapi juga sebagai ekosistem yang dapat mewadahi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk seni, budaya, dan kreativitas,” kata Hindarko.

        Menurut dia, keberadaan ruang kreatif dapat menjadi bagian dari perkembangan kawasan karena menyediakan tempat bagi masyarakat untuk bertemu dan melakukan berbagai aktivitas di luar fungsi komersial maupun hunian.

        Arsitek Budi Pradono melihat perkembangan ruang kreatif di Bandung Timur sebagai peluang untuk membentuk titik aktivitas baru dengan karakter yang berbeda.

        Pemilihan lokasi di Bandung Timur, menurut Budi, justru memberikan tantangan karena kawasan tersebut belum identik dengan pusat kegiatan seni seperti sejumlah wilayah lain di Kota Bandung.

        “Justru memberi sesuatu tempat yang baru yang mungkin belum ada di daerah Bandung Timur. Buat saya itu justru lebih challenging,” kata Budi.

        Menurutnya, ruang seni tidak seharusnya hanya digunakan sebagai galeri atau tempat memamerkan karya. Ruang tersebut dapat menjadi tempat bertemunya gagasan, komunitas, seniman, desainer, dan masyarakat.

        Pertemuan berbagai kelompok tersebut berpotensi menghasilkan aktivitas lanjutan, mulai dari kegiatan seni dan pertunjukan hingga kolaborasi dan kegiatan ekonomi kreatif.

        Budi menilai kreativitas memiliki hubungan dengan dinamika ekonomi suatu kota.

        “Dengan kreativitas, itu memacu adrenalin untuk menghidupkan kota. Kota-kota yang mati bisa hidup kembali karena kreativitas. Kreativitas itu generator pada ekonomi,” ujarnya.

        Pandangan tersebut menempatkan ruang kreatif bukan sekadar fasilitas pelengkap kawasan, tetapi sebagai salah satu unsur yang dapat membangun aktivitas dan interaksi ekonomi.

        Ruang kreatif memiliki karakter berbeda dibandingkan pusat perdagangan konvensional. Aktivitas ekonominya dapat terbentuk dari pergerakan masyarakat yang datang untuk mengikuti pameran, pertunjukan, diskusi, lokakarya, maupun kegiatan komunitas.

        Dalam jangka panjang, kolaborasi antara seniman, pelaku desain, musisi, komunitas, pelaku usaha kreatif, dan masyarakat dapat membuka peluang kolaborasi serta kegiatan ekonomi baru.

        Pola tersebut juga dapat memberikan alternatif bagi kawasan yang sedang berkembang untuk membangun aktivitas masyarakat tanpa hanya mengandalkan fungsi perdagangan dan konsumsi.

        Hindarko kembali mengatakan pengembangan ruang kreatif tersebut diarahkan untuk memberikan ruang bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.

        “Summarecon Bandung memang ingin mengelola, menciptakan ruang untuk kreativitas, terutama kreativitas masyarakat Bandung dan sekitarnya dan lebih luas lagi,” katanya.

        Dengan demikian, perkembangan ruang kreatif di Bandung Timur tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya fasilitas seni. Lebih jauh, ruang tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembentukan ekosistem yang menghubungkan aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi.

        Perkembangan ruang fisik juga berlangsung ketika aktivitas masyarakat semakin banyak berpindah ke ruang digital. Kehadiran media sosial, platform digital, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara masyarakat berkomunikasi, bekerja, dan mengakses informasi.

        Di tengah perubahan tersebut, kebutuhan terhadap ruang untuk bertemu secara langsung tetap menjadi bagian dari perkembangan kota.

        Hindarko mengatakan interaksi secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan aktivitas yang berlangsung melalui perangkat digital.

        “Di dunia yang penuh dengan sekarang ini dengan AI, dengan digital, dengan virtual, kita benar-benar merasakan sendiri. Kapan sih kita lepas dari handphone? Ternyata kita lepas dari handphone, kita nikmat banget,” ujarnya.

        Karena itu, ruang fisik yang memungkinkan masyarakat berinteraksi secara langsung dapat memiliki fungsi sosial sekaligus mendukung terbentuknya aktivitas ekonomi berbasis komunitas.

        LIMINAL selanjutnya dikembangkan sebagai salah satu ruang publik di DotHub Bandung dengan program yang mencakup tiga bidang, yakni BUNYI untuk musik dan pertunjukan, KATA untuk literasi dan pemikiran, serta RUPA untuk seni visual dan desain.

        Berbagai program seperti pameran, pertunjukan, diskusi, dan lokakarya dirancang untuk mempertemukan gagasan, karya, pelaku seni dan budaya, serta publik.

        LIMINAL sendiri mengusung konsep arsitektur yang mengajak pengunjung mengalami ruang melalui cahaya, material, lanskap, dan keheningan.

        Bangunan tersebut menggunakan bambu petung lokal sebagai material sekaligus struktur utama. Tiga bukaan berbentuk corong mengarahkan cahaya alami ke ruang yang berada di bawah permukaan tanah.

        Budi menjelaskan konsep tersebut merupakan bagian dari pendekatan ANTI-OBJECT ARCHITECTURE, yang tidak menempatkan arsitektur semata-mata sebagai objek, tetapi sebagai bagian dari hubungan antara manusia, lingkungan, material, dan konteks tempat.

        “Liminal menjadi sebuah perjalanan refleksif melalui penciptaan karya arsitektur berupa mute space atau ruang hening yang terkubur tanpa monumen, guna mengajak kita merenung, menghayati dunia, dan mengintrospeksi diri,” ujarnya.

        Aspek arsitektur tersebut menjadi bagian dari cara ruang kreatif membentuk pengalaman masyarakat di dalam kawasan. Namun, nilai ekonominya tidak semata-mata terletak pada bangunan, melainkan pada aktivitas yang dapat tumbuh di sekitarnya.

        Perkembangan ruang kreatif di Bandung Timur pada akhirnya menunjukkan perubahan cara melihat fungsi kawasan perkotaan.

        Kawasan tidak hanya dinilai berdasarkan ketersediaan hunian, pusat perdagangan, atau fasilitas hiburan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan aktivitas dan mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.

        Ketika ruang seni dapat menjadi tempat berkumpulnya seniman, komunitas, pelaku usaha kreatif, desainer, musisi, dan publik, muncul peluang terbentuknya ekosistem yang lebih luas.

        Bagi Bandung Timur, pola tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat aktivitas kawasan seiring berkembangnya pusat-pusat hunian, komersial, dan infrastruktur.

        Tantangannya adalah memastikan ruang kreatif tidak berhenti sebagai proyek fisik, tetapi mampu mempertahankan program, komunitas, dan aktivitas secara berkelanjutan.

        Jika hal tersebut dapat berjalan, ruang kreatif berpotensi menjadi salah satu simpul baru yang menghubungkan aktivitas sosial dengan ekonomi kreatif di Bandung Timur.

        Perkembangan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kawasan perkotaan tidak selalu harus diukur dari bertambahnya bangunan dan pusat perdagangan. Aktivitas kreatif, interaksi masyarakat, serta terbentuknya komunitas juga dapat menjadi bagian dari dinamika ekonomi sebuah kawasan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: