Utang Rp21 Triliun Bukan Beban? Robert Kiyosaki Ungkap Strategi Bangun Kekayaan
Kredit Foto: Instagram/kenmcelroyofficial
Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, mengungkapkan memiliki utang sebesar US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,13 triliun sebagai bagian dari strategi membangun kekayaan. Strategi tersebut berbeda dengan prinsip keuangan pribadi yang menganjurkan seseorang hidup di bawah kemampuan finansialnya.
Kiyosaki justru mendorong penggunaan utang untuk membeli aset yang mampu menghasilkan arus kas. Dalam bukunya yang terbit pada 1997, ia menyampaikan pandangan bahwa orang kaya tidak bekerja demi uang, penabung adalah "pecundang", dan rumah yang ditempati sendiri bukanlah aset.
"Saya mengajarkan orang bagaimana menggunakan utang, sementara Dave Ramsey mengatakan jangan menggunakan utang. Kebanyakan orang seharusnya mendengarkan Dave Ramsey," kata Kiyosaki dalam podcast Get Rich Education pada Juni, dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (13/9/2026).
Strategi yang dikenal sebagai pendekatan "Rich Dad" tersebut mengarahkan investor menggunakan utang untuk memperluas pendapatan dengan membeli aset yang menghasilkan uang. Namun, angka utang US$1,2 miliar milik Kiyosaki perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Mantan istri sekaligus mitra bisnis lama Kiyosaki, Kim Kiyosaki, mengatakan kepada Vanity Fair bahwa angka tersebut bukan berarti Robert secara pribadi memiliki utang US$1,2 miliar. Menurut Kim, utang tersebut dimiliki kelompok investor properti yang memiliki portofolio sekitar 1.500 unit apartemen, dengan struktur hukum tertentu yang membuat sebagian besar kewajiban tidak menjadi tanggung jawab pribadi mereka.
Kiyosaki membedakan utang menjadi "utang baik" dan "utang buruk". Menurutnya, utang disebut baik apabila aset yang dibeli menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membayar cicilan pinjaman sekaligus menyisakan arus kas, seperti properti sewaan, saham dividen, dan strategi perdagangan opsi.
"Dibandingkan memangkas 300 dollar AS per bulan dari anggaran untuk membeli sesuatu, investor Rich Dad bertanya aset apa yang dapat mereka beli yang menghasilkan arus kas 300 dollar AS per bulan," tulis Kiyosaki dalam sebuah blog. "Setelah aset tersebut dimiliki, 300 dollar AS itu bukan lagi pengorbanan dari anggaran. Uang tersebut datang setiap bulan dari aset, sementara aset itu juga terus mengalami apresiasi," lanjut dia.
Brock Harris, agen properti sekaligus investor di Los Angeles, mengatakan dirinya juga menggunakan konsep utang yang dikemukakan Kiyosaki. "Saya telah membantu klien memulai investasi properti selama puluhan tahun. Ketika melakukannya, saya mengingatkan mereka tentang salah satu perbedaan penting yang dikemukakan Kiyosaki, yakni ada utang baik dan utang buruk," kata Harris melalui email.
Menurut Harris, pembeda utang baik dan buruk dapat dilihat dari pihak yang membayar kewajiban tersebut. "Jika bukan Anda yang membayarnya, itu adalah utang baik. Jadi, jika penyewa yang membayar utang tersebut, itu adalah utang baik, dan pinjamlah sebanyak yang Anda bisa," ujarnya.
Meski demikian, strategi Kiyosaki dinilai tidak mudah diterapkan oleh investor saat ini. Chris Galeski, penasihat kekayaan sekaligus mitra di Morton Wealth di Calabasas, California, menilai angka US$1,2 miliar dapat memberikan gambaran menyesatkan jika tidak disertai konteks, karena strategi tersebut berkembang dalam periode properti dan suku bunga yang sangat menguntungkan.
"Yang membuat saya frustrasi dari cara angka 1,2 miliar dollar AS itu diberitakan adalah angka tersebut seolah-olah disajikan sebagai strategi ke depan. Padahal, sebenarnya itu merupakan gambaran tentang apa yang berhasil bagi Kiyosaki di masa lalu, selama periode yang sangat menguntungkan bagi properti," kata Galeski.
"Seseorang yang mulai berinvestasi sekarang menghadapi kondisi yang sangat berbeda. Angka utama tersebut mendapat seluruh perhatian, padahal disiplin di baliknya yang sebenarnya penting," lanjutnya. Galeski mengatakan strategi Kiyosaki dibangun selama beberapa dekade ketika biaya perolehan properti masih rendah, kemudian mendapat keuntungan dari periode suku bunga yang mendekati nol pada 2009 hingga 2022.
"Kiyosaki tidak salah bahwa leverage dapat membangun kekayaan. Namun, dia menggambarkan strategi yang bekerja sangat baik dalam periode 20 hingga 30 tahun tertentu, bukan sesuatu yang bisa begitu saja ditiru saat ini," kata Galeski. Menurutnya, investor sekarang menghadapi harga properti yang masih tinggi dan suku bunga yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode tersebut.
Galeski juga tidak sepenuhnya mendukung pendekatan bebas utang seperti yang dianjurkan Dave Ramsey. "Sejujurnya, itu juga tidak realistis bagi kebanyakan orang. Menjadi sepenuhnya bebas utang dalam investasi properti membutuhkan modal awal yang besar, sementara sebagian besar investor tidak memiliki uang sebanyak itu," ujarnya.
Menurut Galeski, pilihan investor bukan sekadar bebas utang atau mengikuti strategi Kiyosaki secara penuh. Leverage dapat digunakan secara disiplin untuk meningkatkan kemampuan membeli aset, tetapi juga memperbesar risiko kerugian ketika nilai aset turun atau pendapatan tidak cukup untuk membayar kewajiban.
Galeski mengatakan arus kas dari investasi properti harus mampu menutup seluruh biaya kepemilikan dan masih menyisakan dana. Investor juga perlu memiliki bantalan ekuitas yang cukup agar penurunan pasar tidak langsung menghapus kemampuan mereka mempertahankan aset.
Baca Juga: Roberto Carlos Dikabarkan Masuk Islam, Ini Pesepak Bola Brasil yang Sudah Jadi Mualaf
"Bantalan tersebut adalah perbedaan antara mampu melewati resesi dan menyerahkan kembali kunci properti kepada bank," kata Galeski. Harris pun tidak menganjurkan gaya hidup bebas utang seperti yang disarankan Ramsey.
"Bank adalah mitra yang luar biasa. Mereka akan menyediakan 80 persen dana untuk membantu Anda membeli sebuah properti, lalu berapa bagian dari keuntungan yang mereka dapatkan? Tidak ada," kata Harris. "Yang mereka minta hanyalah uang mereka dikembalikan secara bertahap, dengan tingkat bunga yang wajar. Itulah jenis mitra yang saya sukai," lanjutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: