Habib Rizieq Puji Bung Karno sebagai Tokoh Internasional, Dibandingkan dengan Si Fufufafa, 'Kacau'
Kredit Foto: Ist
Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS), melontarkan kritik tajam nan menohok terkait sistem demokrasi dan hasil Pemilihan Umum (Pemilu) di Indonesia saat ini.
Ia secara blak-blakan membandingkan kualitas pemimpin era modern dengan kehebatan proses pemilihan Proklamator RI, Soekarno dan Mohammad Hatta, pada tahun 1945.
Menurut Habib Rizieq, terdapat ironi yang sangat besar antara ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran di masa lalu dibandingkan dengan masa kini.
Pada tahun 1945, Indonesia belum mengenal sistem pemilu, parlemen (DPR), maupun partai politik yang sah. Bahkan, jumlah akademisi setingkat profesor, doktor, hingga insinyur masih sangat bisa dihitung dengan jari.
"Bung Karno dan Bung Hatta, Saudara, dipilih jadi presiden. Enggak lewat pemilu, enggak lewat DPR, enggak ngeluarin biaya triliun-triliunan, enggak ada kampanye ribut gontok-gontokan," urai Habib Rizieq dalam sebuah video disitat dari ceramahnya di Pecinta Habaib, dikutip Senin (14/9/2026).
Habib bercerita sejarah kualitas pemimpin di tahun 1945, meski diproses melalui musyawarah sederhana antartokoh bangsa, kiai, dan cendekiawan saat itu, kepemimpinan yang dihasilkan justru sukses melahirkan pahlawan nasional sekaligus tokoh yang disegani di kancah internasional.
Lebih jauh, Habib Rizieq menyoroti kontrasnya kondisi tersebut dengan perpolitikan Indonesia saat ini. Ia menilai realita demokrasi modern justru menghasilkan sebuah kemunduran kualitas kepemimpinan.
"Bung Karno dan Bung Hatta, saudara, dipilih jadi presiden. Enggak lewat pemilu, enggak lewat DPR, enggak mengeluarkan biaya triliun-triliunan, enggak ada kampanye ribut, gontok-gontokan. Profesornya sedikit, doktornya sedikit, insinyurnya sedikit. Tapi hasilnya Bung Karno, Bung Hatta, saudara, pahlawan nasional, bahkan merupakan tokoh internasional. Ini bagus.
Secara satire, Habib Rizieq menyebut bahwa hasil dari demokrasi berbiaya triliunan rupiah tersebut justru hanya melahirkan sosok yang belakangan ini ramai disindir publik dengan sebutan "Fufufafa".
"Eh zaman sekarang, profesornya ribuan, partainya banyak, duitnya kaya, sampai bikin pemilu triliunan rupiah. Kita korbankan semua. Eh, dapatnya Fufu Fafa. Kacau! Astagfirullahalazim," keluhnya menutup kritik tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat