Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi atau mixed to cautious pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Pelaku pasar mencermati dinamika kebijakan The Federal Reserve (The Fed) setelah bank sentral Amerika Serikat tersebut menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00%.
"Secara teknikal IHSG masih mengalami koreksi wajar dari puncak wave [iii], sehingga membentuk pola wave [iv]. Meski demikian, struktur bullish masih berlaku," ujar Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta dalam riset hariannya.
Dia mengaku, MA20 dan MA60 masih menunjukkan kondisi bullish crossover. Namun, Stochastics K_D dan RSI memberikan sinyal negatif, sementara volume perdagangan terus menurun.
Kenaikan suku bunga The Fed menjadi yang pertama sejak Juli 2023. Sementara itu, median proyeksi FOMC (dot plot) menunjukkan suku bunga sekitar 4,1% pada akhir 2026, yang mengindikasikan peluang kenaikan berikutnya masih terbuka dengan probabilitas sekitar 50:50. Proyeksi inflasi core PCE sebesar 2% juga baru mundur hingga 2029.
Menurut Nafan, inflasi yang masih persisten, pasar tenaga kerja yang relatif resilient, serta kenaikan harga energi membuat The Fed kembali cenderung hawkish. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menguat 0,54% ke level 5,023%, tertinggi dalam hampir dua dekade, sehingga kenaikan cost of capital menjadi tekanan bagi aset berisiko.
Dari sisi politik, keputusan independen The Fed disebut berseberangan dengan preferensi terbuka Presiden Donald Trump yang konsisten mendorong pemangkasan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
"Kondisi ini menempatkan The Fed dalam persimpangan dengan Gedung Putih menjelang US midterm elections pada 3 November 2026 dan membuat pasar sensitif terhadap komunikasi kebijakan moneter," ungkap dia.
Forward Guidance The Fed Jadi Kunci
Bagi IHSG, kenaikan 25 bps sebenarnya telah priced in. Karena itu, perhatian pasar pada 17 September lebih tertuju pada forward guidance Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga berikutnya.
"Jika pasar menilai The Fed masih membuka peluang kenaikan, tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham Indonesia, berpotensi berlanjut," jelas dia.
Di dalam negeri, investor juga mencermati peluncuran Icomex/Bursa Mineral dan Komoditas Strategis dengan timah sebagai komoditas strategis pertama yang diperdagangkan. Implementasi kembali mekanisme short selling sejak 15 September juga berpotensi meningkatkan aktivitas dan likuiditas pasar.
Sentimen positif datang dari penurunan harga minyak. WTI turun 3,60% menjadi US$102,02 per barel dan Brent melemah 2,94% ke USD105,55 per barel seiring tambahan pasokan dari Timur Tengah dan kenaikan stok minyak AS. Kondisi tersebut sedikit meredakan kekhawatiran cost-push inflation global.
Baca Juga: IHSG Kembali Merah, Kini Tertekan di Level 6.436,85
Baca Juga: Ditanya BEI soal Bos Terjaring OTT KPK, Summarecon Agung (SMRA) Belum Bisa Beri Penjelasan
Baca Juga: Danantara Berpeluang Pegang Saham BEI Lebih dari 5%, Ini Ketentuannya
Pelaku pasar domestik turut mencermati stabilitas politik-ekonomi setelah pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan serta ekspektasi kebijakan Bank Indonesia, termasuk BI Rate, untuk menjaga stabilitas rupiah.
"Secara teknikal, level support IHSG berada di 6.371 dan 6.290, sedangkan resistance di 6.566 dan 6.636," ungkap dia.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG mencatat net foreign sell Rp592,05 miliar. Secara year to date (ytd), net foreign sell mencapai Rp99,11 triliun dan kinerja IHSG minus 25,56%.
Nafan merekomendasikan investor melakukan akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental solid dan valuasi murah, mencermati saham yang menunjukkan pembalikan tren, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan