Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Ngeri, Tiap Tahun Muncul Lima Penyakit Baru

Ngeri, Tiap Tahun Muncul Lima Penyakit Baru Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Permasalahan kesehatan dewasa ini makin nyata dan mengancam setiap lapisan masyarakat. Bahkan, tiap tahun setidaknya ada lima penyakit baru ditemukan dan mengancam manusia. dr. Laurentius Aswin Pramono, Sp.PD, M. Epid, seorang internis dan yang mendalami epidemiologi klinis mengatakan, melihat kondisi tersebut, masyarakat harus selalu bersiap dan waspada.

Secara global, World Health Organization (WHO) mengategorikan permasalahan kesehatan hingga mencapai 68.000 jenis. Indonesia pun tak lepas dari bahaya kesehatan tersebut dan kita harus terus siaga terhadap kemunculan penyakit-penyakit baru.

Baca Juga: Yang Wajib Kamu Ketahui Penyakit Pascabanjir

"Para ahli memperkirakan lima penyakit baru pada manusia muncul tiap tahun, tiga di antaranya bersumber dari binatang," ujarnya di Jakarta, Senin (13/1/2020).

dr. Aswin juga mengingatkan bahwa penyakit kritis dapat menyerang siapa saja baik tua maupun muda dan sebaiknya masyarakat tidak terpaku menghindari hanya suatu penyakit tertentu.

"Berbagai permasalahan kesehatan dapat terus bertambah akibat banyak faktor, seperti lifestyle, globalisasi, hingga perubahan iklim. Masyarakat perlu mengantisipasi ancaman penyakit kritis ini dengan mengubah gaya hidup mereka dan lebih menyadari mahalnya kesehatan," paparnya.

Menurutnya, penyakit kritis dapat berimplikasi pada aspek psikologis, sosial, hingga finansial yang dapat menggoyahkan stabilitas ekonomi dan masa depan keluarga. Penyakit kritis tidak hanya menimbulkan beban keuangan berupa biaya rumah sakit, tetapi juga biaya hidup.

Sebagai contoh, suatu penelitian menyebutkan 83% pasien Multidrug-Resistant Tuberculosis dari berbagai pusat kesehatan di Indonesia mengalami dampak katastropik terhadap keuangan rumah tangga akibat penyakitnya. Dalam rentang waktu enam bulan setelah didiagnosis, 86% kehilangan pendapatan, 32% harus meminjam uang, dan 18% dari mereka mengakui menjual properti untuk menutupi pengeluaran.

Melihat berbagai fakta yang ada, Himawan Purnama, Head of Product Development Prudential Indonesia menjelaskan, asuransi kondisi kritis saat ini terbatas pada diagnosis jenis penyakit. Namun, PRUTotal Critical Protection (PRUTop) dan PRUTotal Critical Protection Syariah (PRUTop Syariah) menawarkan konsep baru perlindungan kondisi kritis yang berfokus pada perawatan, tindakan, atau ketidakmampuan permanen yang terjadi akibat kondisi kritis.

"Hal tersebut yang menjadikan PRUTop dan PRUTop Syariah unggul di kelasnya karena kedua produk ini mampu melindungi kesehatan dan finansial masyarakat Indonesia secara menyeluruh dan memastikan mereka hidup lebih tenang," tambahnya.

Bukan cuma itu, produk asuransi tambahan tersebut juga memberikan perlindungan atas penyakit kritis yang belum ditemukan (future-proof). Kemudian maksimal uang pertanggungan hingga Rp5 miliar.

Baca Juga: 4 Kabupaten Sudah Serahkan Rekapitulasi ke KPU Bali

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Puri Mei Setyaningrum

Bagikan Artikel: