Hal ini, menurut Iksan, terjadi karena petani terjebak dalam praktik ijon. Selain itu, kadar air jagung yang diinginkan para pengepul adalah 7 persen, sementara petani tidak melakukan perlakuan pascapanen sehingga hasil panen langsung dijual dengan kadar air mencapai 30 persen.
Menanggapi hal tersebut, Mentn SYL yang juga mantan Gubernur Sulsel memberikan saran untuk memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.
"Ada KUR pertanian sebesar Rp50 triliun. Manfaatkan itu. Kalau ada ijon atau tengkulak, saya minta dinas pertanian koordinasi dengan Dirjen PSP, gulirkan KUR di sini," ujar SYL.
Baca Juga: Semangat Penangkar Benih Jagung Sulut Siap Dukung Gratieks Kementan
Kehadiran KUR, menurut SYL, adalah salah satu upaya negara untuk memastikan kesejahteraan bagi para petani di seluruh Indonesia dan membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern.
"Jangan perantara untungnya jauh lebih banyak dari petani. Tidak ada itu ongkos menginjak rem, ingat itu. Jangan beli jagung dari petani Rp1.700, sesuai HPP-lah. Harga beli itu Rp3.150. Jangan beli di bawah HPP, " kata SYL.
Oleh karena itu, menurutnya, harus ada proses pengolahan, penjemuran sehingga kualitas jagung baik sehingga harga lebih tinggi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Rosmayanti
Tag Terkait: